Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Kegiatan Berburu Putul di Gunungkidul, Kemunculan Serangga Ini Sering Disebut Sebagai Pertanda Musim Hujan

Yusuf Bastiar • Jumat, 17 Oktober 2025 | 21:30 WIB

Di tengah gelap, Manto harus memasang mata awas. Kepalanya harus tetap terjaga mendongak ke atas. Jika ia menjumpai putul di daun pohon pisang, tangan bergerak gesit meraihn
Di tengah gelap, Manto harus memasang mata awas. Kepalanya harus tetap terjaga mendongak ke atas. Jika ia menjumpai putul di daun pohon pisang, tangan bergerak gesit meraihn
GUNUNGKIDUL - Serangga yang dikenal dengan sebutan Putul, bagi masyarakat Gunungkidul bukan sekadar makanan lokal.

Di sini, para petani menandai kemunculan putul sebagai tanda pergantian musim.

Sebagai ilmu titen, kemunculan putul membuat petani hampir tak pernah meleset membaca cuaca.

Jika putul sudah banyak dijumpai, artinya musim kemarau akan berganti guyuran musim hujan.

Suatu tanda bagi masyarakat Gunungkidul yang mayoritas petani, harus lekas menyiapkan lahannya.

Suatu malam di Pantai Sadeng, langit perlahan menghitam. Angin laut dari selatan berembus kencang membawa aroma asin dan lembap, tanda musim telah berganti.

Dari kejauhan, dua titik cahaya bergerak pelan di antara rumpun pohon pisang.

Dua senter kepala yang menuntun langkah Sumanto dan rekannya dalam pencarian yang sudah menjadi tradisi, nyuluh putul.

Di tengah temaram senja yang segera berganti malam warga Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari Sumanto mulai mengenakan senter besar di kepalanya.

Ia menyebutnya “nyuluh”, sebagai kegiatan berburu putul, sejenis serangga kecil penghuni daun pisang yang telah lama menjadi pangan lokal khas Gunungkidul.

“Kalau sudah mulai banyak putul, tandanya musim hujan sebentar lagi datang,” ujar Manto sambil menyorotkan cahaya ke helai daun pisang pada Kamis malam, (16/10/2025).

Malam itu, Manto menyusuri jalan di kawasan Pantai Baron. Setiap rumpun pisang yang pernah ia tandai, satu per satu didatangi.

Di sela daun yang lebar, putul tampak bersembunyi, sesekali berkilau terkena pantulan cahaya senter.

Selama satu jam, mereka berpindah dari satu lahan ke lahan lain, hingga dua botol air mineral berukuran tanggung pun terisi penuh dengan hasil buruannya.

Daun pisang menjadi satu-satunya pohon, kata Manto, yang membuat putul memiliki cita rasa gurih.

Sebab, menurut pengalaman bertahun dia, putul yang berada di pohon pepaya atau pohon yang lain rasanya akan beda.

“Kalau yang di pohon kates cenderung pahit, hilang rasa gurihnya. Harus jeli juga, kadang sembunyi di balik daun, tapi kalau kena cahaya senter, pasti kelihatan soalnya berkilauan,” katanya sambil tersenyum.

Setelah botol terisi, Manto kembali ke rumahnya di kawasan Pantai Watu Kodok. Di dapur sederhana, ia menyiapkan baskom dan air bersih.

Satu per satu putul ia keluarkan dari botol, kemudian direndam. Air rendaman segera berubah warna menjadi kecoklatan, warna ini dari getah yang menempel di tubuh putul.

“Ini harus dicuci tiga kali, biar getahnya hilang,” jelasnya sambil mengaduk baskom.

Setelah bersih, putul direbus bersama bumbu sederhana: garam, sedikit gula, dan bawang putih.

Wangi gurih mulai tercium, berpadu dengan suara mendesis dari wajan ketika ia mulai menggoreng putul hingga kering. Suara krek-krek-krek terdengar renyah, tanda putul sudah matang.

Aroma gurih itu segera menarik perhatian warga sekitar. Satu per satu tetangga berdatangan, tersenyum sambil membawa piring kecil.

Malam pun berubah menjadi ajang makan bersama suasana khas desa yang hangat dan guyub.

“Warga kalau dengar bunyi gorengan putul pasti langsung datang,” kata Manto sambil tertawa. “Makan bareng sambil cerita pengalaman, kadang ada yang gatal, tapi tetap saja dicari setiap tahun,” tambahnya.

Bagi masyarakat Gunungkidul, putul bukan sekadar panganan unik. Ia adalah penanda alam, semacam kalender tradisional yang memberi tanda datangnya musim penghujan.

Tradisi ini menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat petani. Saat putul mulai bermunculan, petani di Gunungkidul mulai menyiapkan lahan: membajak tanah, menebar benih, dan menunggu turunnya hujan pertama.

“Kalau putul sudah muncul, itu artinya tanah mulai lembab, hujan akan datang dalam satu-dua minggu,” ujar Manto yang sudah puluhan tahun menandai kemunculan putul.

Menurut cerita yang diwariskan dari para sesepuh, Manto masih mengingat cerita simbahnya, bahwa kebiasaan makan putul bermula dari masa paceklik panjang di Gunungkidul, ketika pangan sulit didapat.

Warga yang bergantung pada hasil alam di tanah batuan karst mencoba berbagai sumber makanan alternatif, termasuk serangga yang mudah ditemui di sekitar pekarangan.

“Kata simbah dulu, zaman krisis orang makan apa saja yang bisa dimakan. Dari situ mereka tahu kalau putul ini enak, gurih, dan bisa jadi lauk,” ungkap Manto.

Seiring waktu, nyuluh putul bukan lagi sekadar cara bertahan hidup, tapi menjadi bagian dari identitas kuliner dan kearifan ekologis Gunungkidul.

Kini, di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi nyuluh putul tetap lestari di beberapa desa pesisir selatan.

Bagi Manto, berburu putul adalah cara sederhana untuk menjaga hubungan manusia dengan alam.

Sebuah upaya membaca tanda-tanda yang diberikan bumi, sambil menjaga tradisi yang diwariskan turun-temurun.

“Putul itu bukan cuma makanan. Ia tanda dari alam, pengingat bahwa musim hujan akan datang, bahwa tanah siap ditanami lagi,” ucapnya pelan, menatap langit malam yang mulai berawan.

Di antara bunyi angin laut dan gelap yang kian pekat, Manto menutup hari dengan satu baskom penuh putul goreng.

Aroma dan rasa renyah, gurih, dan sarat makna tentang bagaimana manusia Gunungkidul hidup selaras dengan irama alam. (bas)

Editor : Bahana.
#serangga #Gunungkidul #putul