Dapat Modal 600 Juta dari Danais, Lumbung Mataraman Piyaman, Wonosari, Gunungkidul Berhasil Panen Raya Perdana
Yusuf Bastiar• Rabu, 15 Oktober 2025 | 14:35 WIB
Panen raya dibuka oleh Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih. Dia mengingatkan agar pengelolaan Lumbung Mataraman tetap memperhatikan prinsip efisiensi.
GUNUNGKIDUL - Program Lumbung Mataraman Kalurahan Piyaman, Kapanewon Wonosari, Gunungkidul menunjukkan hasil menggembirakan. Berbekal dukungan anggaran Rp 600 juta dari dana keistimewaan (danais) 2025, kawasan ini sukses menggelar panen raya perdana dengan hasil pertanian melimpah. Menandai langkah nyata menuju kemandirian pangan masyarakat desa.
Lurah Kalurahan Piyaman Tugino menyampaikan, panen raya ini menjadi momentum penting bagi warga untuk mewujudkan ketahanan pangan berbasis potensi lokal. “Ini menjadi tonggak penting dalam upaya mewujudkan kemandirian pangan masyarakat sekaligus wujud nyata sinergi antara pemerintah daerah, kelompok tani, dan koperasi lokal,” ujarnya saat ditemui di lokasi panen Selasa (14/10).
Tugino menyebut Kalurahan Piyaman pada awal 2025 memperoleh program BKK Danais Desa Mandiri Pangan Lumbung Mataraman senilai Rp 600 juta. Dana tersebut, kata dia, tahap pertama cair sebesar Rp 269,8 juta. Digunakan untuk penyiapan lahan, pembangunan sumur ladang, serta penyediaan bibit bawang merah, semangka, cabai, kacang prol, dan jagung manis.
Sementara tahap kedua senilai Rp 330,1 juta kini tengah dalam proses pelaksanaan. “Kami menjalankan program ini dengan penuh kehati-hatian agar hasilnya benar-benar membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, program ini dikelola oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sukatani yang menaungi 11 kelompok tani dan 4 kelompok wanita tani (KWT). Lahan seluas 1,5 hektare menjadi pusat kegiatan pertanian, dengan hasil utama berupa bawang merah varietas Tajuk (Thailand–Nganjuk) dan semangka jenis Inul.
Tugini mengaku dari bibit bawang merah sebanyak satu kuintal, petani berhasil memanen lebih dari satu ton hasil dengan harga jual rata-rata Rp 25.000 per kilogram. Begitu pula hasil panen semangka, ia menyebut mencapai lebih dari satu ton dari 600 batang benih, dengan harga jual sekitar Rp 5.000 per kilogram.
“Seluruh hasil pertanian dipasarkan melalui Koperasi Merah Putih, yang menjadi mitra strategis dalam mendukung pemasaran produk lokal,” tambah Tugino.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengingatkan, agar pengelolaan Lumbung Mataraman tetap memperhatikan prinsip efisiensi dan perhitungan biaya produksi secara cermat. Menurutnya, wetiap petani harus menghitung seluruh aspek biaya produksi, termasuk tenaga dan transportasi. Bagi Endah hal ini perlu diperhatikan agar hasil pertanian benar-benar memberikan keuntungan. Sebab, kata dia, bertani bukan sekadar budaya, tapi juga sumber ekonomi keluarga.
“Kalau bisa menanam, kenapa harus beli. Seperti di sini, hasilnya bisa mengurangi kebutuhan rumah tangga. Kalau pengen kaya, harus rajin dan pintar,” katanya. (bas)