Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Setelah 20 Tahun, Megawati Nostalgia di Wanagama, Gunungkidul, Dulu Kering, Kini Pusat Riset dan Kehutanan

Yusuf Bastiar • Jumat, 3 Oktober 2025 | 03:50 WIB
Dalam kesempatan tersebut, Megawati juga mengunjungi museum di Wanagama dan melihat dokumentasi kunjungan tahun 2005. Ia bahkan menandatangani salah satu foto yang menampilkan dirinya saat menanam poh
Dalam kesempatan tersebut, Megawati juga mengunjungi museum di Wanagama dan melihat dokumentasi kunjungan tahun 2005. Ia bahkan menandatangani salah satu foto yang menampilkan dirinya saat menanam poh

 

GUNUNGKIDUL – Presiden ke 5 RI sekaligus Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Megawati Soekarnoputri bernostalgia dengan mengunjungi kawasan hutan Wanagama di Playen, Gunungkidul. Hal itu dilakukan usai mengunjungi kantor BRIN, Kamis (2/10).  

Di lokasi ini, Megawati bernostalgia dengan kunjungan serupa pada 2005, ketika ia masih menjabat sebagai Presiden RI. Saat itu, Megawati menggagas gerakan penghijauan yang fokus pada kawasan selatan Jawa, termasuk Gunungkidul.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang turut mendampingi menyebut Wanagama memiliki makna khusus bagi Megawati. “Beliau selalu mengingat bagaimana Gunungkidul dulu kering, tapi kini hijau karena gerakan penghijauan. Itu membuktikan bahwa kerja kolektif bisa mengubah daerah,” kata Hasto.

Menurut Hasto, kunjungan ke Wanagama tidak hanya bernuansa nostalgia, tetapi juga meneguhkan watak politik yang membumi. Bagi Sekjen PDIP tersebut kunjungan Megawati di Gunungkidul menjadi momentum penting dalam memperkuat arah riset nasional yang berorientasi pada kedaulatan pangan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan.

“Politik itu bukan hanya bicara kekuasaan, tapi membangun peradaban dengan mencintai lingkungan, menanam pohon, hingga menjaga sungai,” ujarnya.

Sebelumnya saat berkunjung ke BRIN, diia meminta BRIN memperluas riset tidak hanya pada pangan sehari-hari, melainkan juga pada pangan tradisional. Seperti tengkleng, yang kini tengah diuji agar bisa diawetkan dengan teknologi tepat guna.

“Inovasi pangan dan kesehatan adalah prioritas kami, sesuai arahan dewan pengarah,” tutur Kepala BRIN Laksana Tri Handoko usai mendampingi kunjungan kerja Megawati ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Umar Anggara Jenie di Playen, Gunungkidul.

Kunjungan ini menjadi penegasan peran strategis Megawati dalam mendorong riset dan inovasi, khususnya pada sektor pangan dan kehutanan. Dalam kunjungannya, puteri proklamator Bung Karno itu meninjau berbagai ruang penelitian BRIN yang berfokus pada pengolahan komoditas pertanian menjadi produk pangan kemasan dengan daya simpan lebih lama.

Teknologi ini sejalan dengan agenda hilirisasi pertanian yang dicanangkan pemerintah.

Menurut dia, Megawati menekankan pentingnya peningkatan mutu riset dan inovasi berbasis kekayaan hayati Indonesia. Megawati juga menilai teknologi pangan yang dikembangkan BRIN memiliki potensi besar mendukung kedaulatan pangan sekaligus memperluas pemanfaatan hasil pertanian lokal.

“Pangan hasil riset tidak hanya untuk konsumsi harian, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi pangan fungsional, suplemen kesehatan, hingga produk penambah vitalitas,” ujar Laksana. (bas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#wanagama #Presiden ke 5 RI #Gunungkidul #museum #PDIP #BRIN #megawati soeakarnoputri #nostalgia #Hasto Kristiyanto