Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Uji Lab Negatif, SPPG Sumberejo, Semin Beroperasi Kembali setelah Lengkapi Sertifikasi

Yusuf Bastiar • Jumat, 3 Oktober 2025 | 15:45 WIB
SPPG Sumberejo Semin Gunungkidul
SPPG Sumberejo Semin Gunungkidul

 

 

GUNUNGKIDUL – Satuan pelayanan dan pemenuhan gizi (SPPG) Sumberejo, Semin akan kembali beroperasi setelah sempat diberhentikan sementara oleh badan gizi nasional (BGN). Kepastian ini menyusul keluarnya hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Gunungkidul yang menyatakan tidak ada indikasi bahan pangan penyebab keracunan pada makanan yang sempat didistribusikan ke 12 sekolah di wilayah Semin.

Kasus dugaan keracunan ini mencuat pada 15 September 2025 lalu, ketika 19 siswa di beberapa sekolah mengalami gejala sakit setelah mengonsumsi makanan dari program SPPG. Menyikapi laporan tersebut, BGN mengeluarkan instruksi penghentian sementara operasional melalui surat resmi Nomor 537/D.TWS/09/2025 tertanggal 27 September 2025.

Namun, hasil pemeriksaan laboratorium yang keluar pada 30 September 2025 menyatakan menu pangan yang diolah di dapur SPPG Sumberejo Semin tidak terbukti mengandung bahan yang menimbulkan keracunan.

“Tidak ada indikasi bahan yang menyebabkan keracunan. Tetapi kami tetap menghormati keputusan BGN dan menjalankan semua instruksi perbaikan yang diberikan,” kata perwakilan SPPG Sumberejo Semin Didik Rubiyanto saat dikonfirmasi pada Kamis, (2/10).

Didik menjelaskan, meski hasil uji laboratorium sudah dinyatakan negatif, pihaknya tetap melakukan sejumlah langkah penyempurnaan. Beberapa di antaranya adalah melengkapi sertifikat sanitasi lingkungan higiene sanitasi (SLHS) dari dinkes, pengurusan sertifikat halal dari Kementerian Agama Gunungkidul, hingga pelatihan sertifikasi juru masak.

“Proses perbaikan sanitasi di dapur juga sudah beres. “Ini penting agar ke depan operasional dapur lebih terjamin, mulai dari tahap persiapan, pengolahan, pengemasan, hingga pembersihan peralatan,” imbuhnya.

Selain perbaikan manajemen dapur, SPPG juga memperbaiki fasilitas fisik, termasuk pemasangan bak kontrol pemisah minyak dan air. Didik menegaskan, upaya ini dilakukan agar insiden serupa tidak terulang dan standar layanan bisa semakin meningkat. Menurutnya, kejadian tersebut telah menjadi pembelajaran berharga, sehingga mulai memperketat semua prosedur.

SPPG Sumberejo Semin selama ini menjadi tulang punggung pemenuhan pangan bagi 12 sekolah di wilayah Semin dengan jumlah penerima manfaat mencapai 2.843 siswa. Dengan terhentinya operasional dapur selama hampir dua pekan, ribuan siswa tersebut harus menunggu distribusi pangan dari dapur lain.

“Kami punya 47 karyawan yang terus bekerja, dan anak-anak di sekolah sangat membutuhkan bantuan makan. Kalau dapur berhenti lama, kasihan siswa-siswi menunggu,” kata Didik.

Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono memastikan hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus dugaan keracunan menu MBG di wilayah Semin dinyatakan negatif. Hasil tersebut sejalan dengan laporan resmi BGN yang sebelumnya menegaskan tidak ditemukan indikasi bahan pangan penyebab keracunan.

Menurut Ismono, uji laboratorium yang dilakukan dinkes sudah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan BGN. “Kami sudah melakukan uji lab sesuai standar. Pemeriksaan ini juga merupakan instruksi langsung dari Kepala Perwakilan BGN DIJ,” ujarnya.

Dinkes Gunungkidul telah diminta untuk membuat surat resmi kepada SPPG Sumberejo Semin. Surat tersebut menjadi dasar tindak lanjut pihak BGN dalam rangka evaluasi operasional dapur SPPG. “Prosedur pemeriksaan sudah dijalankan,” jelasnya.

Dengan pemenuhan syarat-syarat tersebut, lanjut Didik, operasional dapur SPPG Sumberejo Semin direncanakan kembali aktif pada pekan depan, Senin (6/10). Jika berjalan sesuai rencana, maka distribusi makanan bagi ribuan siswa akan kembali normal.

Bahkan, menurut Didik SPPG menargetkan kapasitas penyaluran meningkat hingga 3.200 porsi untuk mendukung program gizi di sekolah. “Ini bukan kejadian luar biasa (KLB) karena tidak ada keberlanjutan kasus, siswa yang sakit pun sudah sembuh setelah ditangani klinik. Namun, kami tetap menjadikan peristiwa ini sebagai bahan introspeksi,” tutur Didik. (bas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#keracunan mbg #Semin gunungkidul #dinkes #uji lab #SPPG #BGN #Negatif