GUNUNGKIDUL - Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul mencatat kenaikan harga ayam potong ras pada September 2025 menjadi salah satu penyumbang inflasi utama di daerah.
Kenaikan dipicu karena permintaan yang tinggi untuk kebutuhan menu bahan gizi (MBG) di sekolah.
Kepala BPS Gunungkidul Joko Prayitno mengatakan, dari pantauan pasar, ayam potong ras bersama telur ayam menjadi komoditas dominan yang mendorong inflasi di Gunungkidul.
“Kami memang melihat ada kenaikan harga. Tetapi kami belum bisa memastikan secara detail apakah murni karena MBG atau faktor suplai,” jelas Joko saat ditemui di kantornya, Rabu (1/10/2025).
BPS mencatat, pada September 2025 daging ayam ras dan telur masing-masing memberi andil inflasi hingga 0,2 persen.
Sementara komoditas lain seperti buncis, cabai merah, bayam, ikan lele, dan ikan nila turut menyumbang meski dengan porsi lebih kecil.
Baca Juga: Gebrakan Baru, Atlet dan Pelatih Berprestasi di Kota Magelang Bisa Dapat Program Bedah Rumah
Joko menyebut, dinamika harga pangan terutama daging ayam dan telur perlu terus dipantau karena menjadi komoditas penting dalam struktur konsumsi masyarakat.
“Faktor permintaan, distribusi, hingga pasokan bisa memengaruhi harga. Karena itu, kami akan terus mengawasi tren mingguan untuk memastikan stabilitas inflasi tetap terjaga,” jelasnya.
Sementara itu, pedagang ayam potong di Pasar Argosari Wonosari Dwi Riadi mengaku, harga ayam potong sudah dua pekan terakhir bertahan tinggi di kisaran Rp 38 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram.
Meski demikian, penjualan di pasar tidak mengalami perubahan signifikan.
“Kalau penyebabnya saya tidak tahu pasti, tapi bisa jadi memang karena MBG. Di Wonosari saja ada beberapa MBG yang menyuplai ribuan siswa. Harganya saja yang naik, tapi kalau penjualan tetap stabil,” katanya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita