Program tersebut tidak hanya berjalan di halaman kantor Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tetapi juga diwajibkan bagi seluruh aparatur sipil negara (ASN) Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) untuk diterapkan di rumah masing-masing.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi menegaskan, program ini merupakan langkah nyata untuk memperkuat ketahanan pangan dari lingkup terkecil, yakni keluarga.
“Semua pegawai di lingkungan Dinas Pertanian wajib melaksanakan Gerbang Pagi di rumah masing-masing. Tujuannya agar kebutuhan dapur bisa dipenuhi secara mandiri tanpa selalu membeli di pasar. Dengan begitu, konsep ketahanan pangan keluarga benar-benar dipraktikkan,” ujar Rismiyadi saat ditemui pada Senin (29/9/2025).
Menurutnya, ASN DPP diminta menjadi teladan dalam mengelola pekarangan rumah untuk ditanami sayur-mayur, sehingga bisa menjadi contoh langsung bagi masyarakat.
Selain itu, lanjutnya, praktik nyata ASN menanam sayuran di pekarangan akan menjadi sarana sosialisasi yang efektif.
“Ketika tetangga melihat tanaman tumbuh, berbuah, hingga dipanen, mereka akan terdorong untuk melakukan hal yang sama,” tambahnya.
Ia mencontohkan pengalamannya sendiri yang menanam terong dan cabai dengan memanfaatkan galon bekas.
Saat ini, tanamannya sudah berbuah dan segera dipanen. Jika dirasakan dampaknya terhadap pengeluaran kebutuhan dapur keluarga, kata Rismiyadi, dampaknya sangatlah nyata.
Menurutnya Pogram Gerbang Pagi ini diharapkan mampu menjadi gerakan bersama masyarakat Gunungkidul.
Dengan memanfaatkan pekarangan rumah, menurutnya warga bisa menekan pengeluaran, sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga di tengah fluktuasi harga kebutuhan pokok.
“Ketika harga cabai tinggi saya tidak perlu membeli. Bahkan, dengan terong hasil panen, saya bisa mengolahnya menjadi lauk sederhana seperti pecak terong. Pengeluaran rumah tangga berkurang, ekonomi keluarga pun lebih aman,” ujarnya.
Senada dengan Rismiyadi, Ketua Tim Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bidang Ketahanan Pangan DPP Gunungkidul Fardiana Ekasari juga merasakan manfaat program ini.
Dengan lahan terbatas, ia menanam terong, cabai, pare, sawi, seledri, dan bawang daun. Beberapa di antaranya sudah bisa dipanen.
“Lumayan, tidak perlu membeli sayuran, tinggal petik dari pekarangan sendiri. Sawi sudah bisa dipanen, terong sebentar lagi menyusul,” ungkapnya. (bas)
Editor : Bahana.