GUNUNGKIDUL - Sebagai pendamping langsung dapur makan bergizi gratis (MBG) di Gunungkidul, Komando Distrik Militer (Kodim) 0730/Gunungkidul menegaskan pihak dapur harus bertanggung jawab penuh apabila terjadi kasus keracunan yang menimpa siswa. Hal ini disampaikan Komandan Kodim Gunungkidul Letkol Inf Roni Hermawan menanggapi dugaan keracunan makanan MBG yang baru-baru ini terjadi di Kapanewon Semin dan Wonosari.
“Secara prosedural, ketika ada siswa keracunan, pihak yang bertanggung jawab itu adalah kepala dapur. Mereka yang menyediakan menu, dan mereka juga yang wajib menindaklanjuti jika ada masalah,” ujar Roni kepada wartawan pada Kamis, (25/9).
Menurutnya, setiap dapur MBG telah dibekali protokol ketat dari Badan Gizi Nasional. Mencakup standar kandungan protein, gizi, hingga kebersihan makanan. Evaluasi rutin juga terus dilakukan terhadap sembilan dapur MBG yang saat ini beroperasi di Gunungkidul.
Sejauh ini, tercatat dua kasus dugaan keracunan MBG di Gunungkidul dengan total 23 siswa terdampak. “Kalau ada dugaan masalah, yayasan bersama dapur harus segera turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan. Logikanya, mereka yang bertanggung jawab pertama kali,” tegasnya.
Sementara itu, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengakui kasus dugaan keracunan MBG menjadi perhatian serius. Ia menyebut, kejadian tersebut tidak dijamin oleh BPJS Kesehatan sehingga pemkab harus menyiapkan langkah antisipasi.
Endah menambahkan, Pemkab Gunungkidul bersama TNI dan Dinas Kesehatan akan memperketat pengawasan dapur penyedia MBG agar pelaksanaan program nasional ini berjalan aman dan sesuai tujuan meningkatkan gizi siswa.
“Jangan sampai pemkab digugat karena ada anak masuk rumah sakit akibat keracunan makanan MBG. Untuk itu, kami alokasikan Rp 100 juta dalam APBD Perubahan 2025 sebagai dana darurat,” jelas Endah. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo