GUNUNGKIDUL - Perpustakaan kini tidak lagi dimaknai sebatas ruang sunyi berisi rak buku. Transformasi besar tengah berlangsung, menjadikannya pusat kegiatan masyarakat yang inklusif, produktif, sekaligus strategis dalam pembangunan bangsa.
Pesan itu mengemuka dalam penutupan Festival Literasi Gunungkidul 2025 di Perpustakaan Daerah Gunungkidul pada Selasa (23/9). Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional Adin Bondar menegaskan bahwa literasi adalah modal insani yang menentukan masa depan Indonesia.
Baca Juga: Pelatih Ansyari Lubis Apresiasi Kehadiran Suporter PSS Sleman ke Kudus
“Kata kunci negara maju adalah kualitas sumber daya manusia. Dan itu hanya bisa ditempuh melalui budaya baca dan kecakapan literasi,” ucapnya saat ditemui di sela-sela festival pada acara penutupan.
Adin menolak memandang literasi sebatas kemampuan membaca, menulis, atau berhitung. Ia menekankan, literasi mencakup kecakapan berpikir kritis, menganalisis, menilai, hingga mencipta. Menurutnya, literasi memiliki multiplayer effect bagi berbagai aspek kehidupan: dari pendidikan, kesehatan, hingga kesejahteraan ekonomi.
Di tengah gempuran teknologi digital dan kecerdasan buatan, Adin juga memberi peringatan. Arus informasi yang masif, kata dia, justru menyimpan risiko jika tidak diimbangi kemampuan literasi.
“UNESCO mencatat, kesenjangan literasi berbanding lurus dengan kesenjangan pendapatan. Negara dengan budaya baca kuat, seperti di Eropa dan Asia Timur, terbukti lebih sejahtera. Sebaliknya, negara dengan budaya baca rendah kerap menghadapi upah rendah, kesenjangan sosial, dan kualitas kesehatan yang tertinggal,” jelasnya.
Menurutnya generasi muda Indonesia rentan mengalami brain rot atau kemunduran kognitif karena banjir informasi yang tidak valid. Untuk itu, ia menekankan pentingnya menanamkan budaya baca sejak dini, bahkan sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Membacakan nyaring untuk anak, memperkenalkan gambar, hingga membangun kebiasaan membaca buku konvensional diyakini sebagai fondasi yang tidak tergantikan.
Adin memaparkan, dukungan nyata telah diberikan ke daerah-daerah, termasuk ke Kabupaten Gunungkidul. Tercatat tiga unit mobil perpustakaan keliling, pojok baca digital dengan smart TV dan koneksi internet, serta 101 ribu buku bacaan bermutu untuk 101 desa telah digelontorkan.
Tahun ini, Perpusnas juga membentuk 180 relawan literasi di 180 kabupaten/kota. Tak berhenti di sana, Perpusnas juga menerbitkan 25 komik anak berseri yang diangkat dari naskah kuno, serta memperluas ruang baca hingga ke rumah ibadah melalui kolaborasi dengan Kementerian Desa.
“Perpustakaan hadir demi martabat bangsa. Transformasi berbasis inklusi sosial adalah jalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara nyata,” tegasnya.
Baca Juga: Christiano Langsung Bersimpuh Minta Maaf saat Bertemu Ibu Argo di Persidangan PN Sleman
Festival Literasi Gunungkidul berlangsung selama empat hari, menampilkan pameran buku dengan 22 stan penerbit dan komunitas, gelar wicara, serta pertunjukan seni budaya. Ratusan pengunjung dari berbagai kalangan hadir setiap hari, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas literasi, hingga ibu-ibu PKK.
Acara puncak ini ditandai dengan gelar wicara bertema Peran Perpustakaan dalam Menginspirasi Perubahan melalui Literasi untuk Kesejahteraan. Diskusi ini menegaskan pergeseran fungsi perpustakaan, dari ruang baca menjadi pusat kegiatan masyarakat yang hidup. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Gunungkidul Kisworo menilai, perubahan itu adalah kebutuhan mendesak.
“Kalau perpustakaan hanya untuk baca dan pinjam buku, lama-lama akan seperti museum. Maka kita geser value-nya, menjadi pusat kegiatan masyarakat,” tuturnya.
Transformasi itu kini nyata terlihat di tingkat kalurahan. Dari 144 kalurahan di Gunungkidul, 62 di antaranya sudah bertransformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial. Masyarakat terlibat aktif dengan beragam kegiatan: ibu-ibu PKK mengolah camilan lokal, anak muda membuka kelas les, hingga komunitas yang menggelar senam bersama.
“Perpustakaan bahkan menjadi ruang senam, latihan seni, hingga wadah pengembangan ekonomi kreatif. Artinya, perpustakaan kini benar-benar kembali ke tengah kehidupan masyarakat,” jelas Kisworo. (bas)
Editor : Heru Pratomo