Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inflasi Gunungkidul Agustus 2025 Capai 2,33 Persen, BPS Soroti Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok

Yusuf Bastiar • Selasa, 23 September 2025 | 15:30 WIB

 

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi bulanan sebesar -0,30 persen.
BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi bulanan sebesar -0,30 persen.


 
GUNUNGKIDUL - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gunungkidul mencatat laju inflasi year-on-year (yoy) pada Agustus 2025 sebesar 2,33 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 107,46. Sementara itu, secara bulanan (month-to-month) Gunungkidul justru mengalami deflasi 0,27 persen, dan inflasi tahun kalender (year-to-date) tercatat 1,53 persen.
 
Kepala BPS Gunungkidul Joko Prayitno menyebut, inflasi tahunan ini dipicu oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran rumah tangga. “Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan kenaikan 3,91 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,28 persen, serta pakaian dan alas kaki yang naik 3,06 persen,” jelas Joko. 
 
Baca Juga: Kepala SPPG DIY Buka Suara soal Kesepakatan Kerahasiaan, Sebut MoU Sudah Diperbarui, yang Lama Minta Ditarik
 
Berdasarkan pemantauan BPS, kata Joko, sejumlah komoditas tercatat memberi andil signifikan terhadap inflasi tahunan. Di antaranya emas perhiasan, kopi bubuk, beras, kelapa, dan bawang merah. Beberapa jenis rokok seperti sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT) juga turut menyumbang kenaikan harga. Sementara itu, menurutnya beberapa komoditas justru menjadi penekan inflasi atau penyumbang deflasi, seperti cabai rawit, bensin, cabai merah, kangkung, hingga bawang putih. 
 
“Selain kebutuhan pokok, komoditas seperti tempe, tahu, hingga jasa seperti ongkos jahit dan upah asisten rumah tangga ikut memberi kontribusi terhadap inflasi,” ujar Joko.
 
Baca Juga: BMKG Dorong Petani Siap Hadapi Perubahan Cuaca. Pentingnya kesiapan petani menghadapi dinamika cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.
 
Meski inflasi tahunan naik, secara bulanan Gunungkidul mengalami deflasi 0,27 persen. Menurut Joko, hal ini disebabkan turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti tomat dan cabai rawit menjadi penyumbang deflasi terbesar, diikuti telur ayam ras, kacang panjang, dan bensin. Secara keseluruhan, Joko menegaskan kondisi inflasi di Gunungkidul masih dalam kategori terkendali. Angka 2,33 persen yoy tidak jauh berbeda dengan periode yang sama tahun lalu yang tercatat 2,32 persen.
 
“Tren inflasi yang stabil ini menunjukkan harga barang dan jasa relatif terjaga. Namun pemerintah daerah perlu tetap waspada terhadap gejolak harga pangan yang sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan distribusi barang,” ungkap Joko.
 
Baca Juga: Inner Sport Vilas Sleman Tawarkan Berbagai Personal Trainer Ahli, dari Fat Loss hingga Pemulihan Cedera
 
Dia mengingatkan, harga komoditas pangan terutama hortikultura. Seperti cabai, bawang, dan tomat, masih menjadi faktor utama yang menggerakkan inflasi. Masyarakat diimbau untuk cermat dalam mengatur belanja rumah tangga, sementara pemerintah daerah diharapkan memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui koordinasi lintas sektor. (bas)
Editor : Sevtia Eka Novarita
#indeks harga konsumen (ihk) #bps #komoditas pangan #Badan Pusat Statistik (BPS) #inflasi #laju inflasi #harga #kabupaten gunungkidul #harga kebutuhan pokok