Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BMKG Dorong Petani Siap Hadapi Perubahan Cuaca. Pentingnya kesiapan petani menghadapi dinamika cuaca ekstrem yang kian sering terjadi.

Yusuf Bastiar • Selasa, 23 September 2025 | 03:22 WIB
PETANI BERBAGAI CUACA: Sekolah Lapangan Iklim digelar di Balai Kalurahan Pilangrejo, Kapanewon Nglipar, kemarin (22/9). Ada 60 petani yang mengikuti kegiatan ini.
PETANI BERBAGAI CUACA: Sekolah Lapangan Iklim digelar di Balai Kalurahan Pilangrejo, Kapanewon Nglipar, kemarin (22/9). Ada 60 petani yang mengikuti kegiatan ini.

GUNUNGKIDUL - Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menekankan pentingnya kesiapan petani menghadapi dinamika cuaca ekstrem yang kian sering terjadi. Toh, kondisi itu bisa diantisipasi jika petani mampu membaca informasi iklim yang benar.


”Cuaca ekstrem sebenarnya bisa diprediksi sebelumnya. Petani perlu terbiasa membaca informasi cuaca, bahkan cukup lewat gawai, untuk menyesuaikan pola tanam,” jelas Dwikorita Karnawati saat membuka Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik Tahun 2025 di Balai Kalurahan Pilangrejo, Kapanewon Nglipar, Senin (22/9).


Melalui SLI, para petani mendapatkan pelatihan tentang pemanfaatan informasi cuaca, pengenalan alat ukur iklim, hingga analisis iklim sederhana. Harapannya, para peserta bisa lebih adaptif dan tangguh dalam menghadapi perubahan iklim. Diikuti 60 peserta, terdiri dari 47 petani hortikultura, 5 penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT), serta 8 perwakilan dari Kalurahan Kedungpoh.


Rita, sapaan akrab Dwikorita Karnawati menegaskan, fokus utama program ditujukan kepada petani bawang merah dan cabai. Dua komoditas hortikultura ini rentan terdampak cuaca ekstrem.
“Dengan cara ini, kerusakan tanaman dapat diminimalisasi, hasil panen lebih optimal, dan ketahanan pangan semakin kuat,” ujarnya.


Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto menilai, program SLI sangat penting karena pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Gunungkidul yang rentan terhadap perubahan iklim.
Menurutnya, dengan adanya pemahaman baru tentang cuaca bisa, petani bisa membantu perubahan cuaca yang makin tak menentu. Sebab, para petani tidak hanya memahami teori, tapi juga langsung mempraktikkan bagaimana menganalisis dan menerapkan informasi iklim dalam usaha tani.


“Saya memberikan apresiasi kepada BMKG Stasiun Klimatologi DIJ yang terus mendampingi petani melalui metode learning by doing,” katanya.

 

Tak hanya itu, bagi Joko, peningkatan kapasitas petani dalam memahami iklim akan berkontribusi langsung pada keberhasilan swasembada pangan sekaligus membantu pengendalian inflasi daerah. “Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Gunungkidul,” tambahnya. (bas/zam)

Editor : Herpri Kartun
#Petani #sekolah lapang iklim (SLI) #gawai #BMKG #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika