Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN menggandeng Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama lembaga mitra lainya tengah mengintensifkan program pemberdayaan masyarakat di Kapanewon Paliyan.
Program ini difokuskan pada pemanfaatan pangan lokal seperti tempe dan pisang utri untuk mendukung gizi ibu hamil. Perwakilan FK-KMK UGM
Digna Niken memaparkan, kasus stunting di wilayah Paliyan masih cukup tinggi. Di Kalurahan Karangasem saja tercatat 53 balita stunting dari 389 balita, sementara di Karangduwet ada 61 balita stunting dari 327 balita.
“Salah satu penyebab utamanya adalah kondisi ibu hamil. Di Karangasem, 31,7 persen ibu hamil berisiko kekurangan energi kronis, sementara di Karangduwet mencapai 38,16 persen,” jelasnya saat dihubungi pada Minggu, (14/8/2025).
Program ini dirancang hingga 2027 dalam tiga tahap. Tahun pertama difokuskan pada identifikasi wilayah, sosialisasi, pelatihan pemanfaatan tempe dan pisang utri, serta intervensi pemberian makanan tambahan (PMT) bagi ibu hamil.
“Tahun kedua akan diarahkan pada pengembangan produk pangan untuk ibu hamil dan menyusui, edukasi gizi, serta pemantauan pertumbuhan bayi. Sedangkan tahun ketiga difokuskan pada produksi MP-ASI berbasis pangan lokal serta pengembangan usaha komunitas,” tambah Digna.
Tim PRTPP BRIN Dini Ariani menjelaskan, kader Posyandu akan dilatih mengolah bahan lokal menjadi aneka kudapan.
Beberapa di antaranya, kata Dini, seperti nugget pisang-tempe, sempol ayam-tempe, rolade ayam-tempe, galantin ayam-tempe, bolu pisang, hingga bolu tempe oreo.
“Selain meningkatkan gizi, olahan ini juga bisa membuka peluang usaha bagi masyarakat,” ujar Dini.
Lurah Karangasem, Sigit Purnomo, menekankan pentingnya kesadaran warga dalam memanfaatkan sumber daya lokal.
Melalui kolaborasi lintas sektor, Sigit berharap program jangka panjang ini mampu memperbaiki status gizi ibu hamil, mencegah stunting, sekaligus meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat di Kalurahan Karangasem dan wilayah Paliyan secara lebih luas.
“Pisang utri jika ditanam dengan pupuk kotoran sapi, tanpa bahan kimia. Selain menyehatkan, juga mudah didapat,” jelasnya. (bas)
Editor : Bahana.