Namun, kondisi berbeda terjadi tahun ini. Fenomena kemarau basah justru membawa berkah dengan potensi kebakaran menurun, sementara tanaman baru hasil rehabilitasi lahan memiliki peluang hidup lebih besar.
Polisi Hutan BKSDA Yogyakarta yang bertugas di SM Paliyan Agus Sunarto mengatakan, patroli kebakaran tetap dilakukan setiap bulan kemarau.
Namun, ancaman api relatif lebih terkendali di tengah musim kemarau basah tahun ini.
“Kalau kemarau panjang hampir selalu ada kasus kebakaran. Tahun lalu saja empat hektar lahan terbakar. Tahun ini situasi lebih aman karena kemarau basah,” ujarnya saat ditemui di kantor SM Paliyan pada Jumat, (12/9/2025).
Kebakaran hutan di kawasan SM Paliyan, kata Agus, kerap terjadi saat musim kemarau.
Sebagian besar kasus dipicu aktivitas petani yang menyiapkan lahan untuk musim tanam dengan cara membakar tumpukan daun kering.
Cara tradisional ini menjadi salah satu penyebab utama api merambat hingga ke kawasan konservasi.
Agus menjelaskan bahwa praktik membakar daun kering dilakukan hampir setiap kemarau.
“Daun-daun dikumpulkan lalu dibakar. Dari situ api bisa merembet ke kawasan hutan. Karena itu kami fokus sosialisasi, agar daun kering tidak dibakar tapi dikumpulkan untuk pupuk,” ujarnya.
Selain faktor kelalaian, ada pula indikasi kesengajaan. Pada 2024 lalu, BKSDA menemukan kasus kebakaran yang diduga dipicu tangan manusia, meski pelakunya hingga kini belum teridentifikasi.
Bahkan pada Agustus lalu, petugas menemukan seorang warga dengan gangguan jiwa yang membakar daun kering.
Beruntung api segera dipadamkan sehingga tidak meluas. Agus menepis anggapan bahwa puntung rokok menjadi penyebab kebakaran.
Menurutnya, api dari rokok tidak cukup bertahan untuk menyalakan material kering di hutan.
“Kami sudah buktikan, puntung rokok tidak sampai menyebabkan kebakaran hutan. Bara api rokok hanya bertahan beberapa menit lalu mati,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi kebakaran, menurut Agus petugas rutin membuat jalur pemisah atau blocking pada tumpukan daun kering. Sekat ini berfungsi mencegah api merambat lebih jauh apabila terjadi kebakaran.
Meski berkah kemarau basah terasa nyata, kewaspadaan tidak diturunkan.
BKSDA tetap menyiagakan peralatan manual pemadam api, dan jika terjadi kebakaran besar, pasukan Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan di Bantul serta BPBD siap dikerahkan.
Kawasan SM Paliyan memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem karst dan habitat satwa liar di Gunungkidul.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat serta langkah pencegahan yang terus diperkuat, ia berharap potensi kebakaran hutan bisa ditekan, sehingga kerusakan ekologis tidak berulang dari tahun ke tahun.
“Patroli kebakaran tetap siaga dengan melibatkan 30 personel setiap hari dan kelompok Masyarakat Peduli Api di desa penyangga. Sosialisasi terus digencarkan kepada petani agar tidak membuka lahan dengan cara membakar daun kering,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari pihak swasta. Perwakilan Mitsui Sumitomo Insurance Gunawan Setiaji menyebut kondisi kemarau basah sangat membantu program konservasi yang sedang berjalan.
Selain itu, Kondisi ini menekan titik rawan kebakaran di empat lokasi SM Paliyan, sekaligus membantu menjaga kelembaban tanah.
Pohon-pohon anakan yang sebelumnya rentan mati saat musim kering dan menjadi korban saat terjadi kebakaran, kini justru lebih terjamin kelangsungannya.
“Kemarau basah ini menekan angka potensi kebakaran, dan di sisi lain memperbesar peluang tanaman yang kami tanam untuk terus hidup,” ujarnya.
Editor : Bahana.