Pemkab Gunungkidul Intensifkan Bersih Luweng, Antisipasi Banjir dan Jaga Sumber Air

Yusuf Bastiar • Dipublikasikan Jumat, 12 September 2025 | 20:35 WIB

Gerakan Bersih Kali Gunung Ringin di Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Jumat (12/9). Kegiatan ini sekaligus memperingati World Cleanup Day (WCD) 2025 yang diikuti lebih
Gerakan Bersih Kali Gunung Ringin di Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, Jumat (12/9). Kegiatan ini sekaligus memperingati World Cleanup Day (WCD) 2025 yang diikuti lebih
GUNUNGKIDUL - Upaya menjaga keseimbangan alam dan melindungi masyarakat dari ancaman banjir terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

Melalui gerakan Jumat Bersih, Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih turun langsung memimpin aksi bersih-bersih luweng di Kapanewon Semanu, Jumat (12/9).

Menurut Endah gerakan ini bukan sekadar rutinitas gotong royong, melainkan bagian dari langkah adaptasi dan mitigasi bencana yang terukur.

Pasalnya, awal 2025 lalu Gunungkidul sempat dilanda banjir besar akibat curah hujan tinggi.

Air tidak tertampung karena jalur saluran tersumbat, sementara luweng yang seharusnya menjadi penampungan alami tertutup sedimentasi, sampah, dan material kayu.

“Dampaknya, genangan meluas hingga ke pemukiman dan lahan pertanian warga,” tegas Endah seusai bersih-bersih luweng pada Jumat, (12/9/2025).

Belajar dari peristiwa tersebut, Endah menegaskan pembersihan luweng kini dijadikan prioritas agenda Jumat Bersih.

Pada kegiatan kemarin, jalur air dibersihkan bersama warga setempat. Bupati juga meninjau luweng yang akan segera dikeruk mulai bulan depan.

Rencana pengerukan dilakukan sedalam tiga hingga empat meter untuk memperbesar kapasitas tampung air.

Selain itu, pemerintah kabupaten kini tengah menyiapkan pembangunan talud yang menghubungkan aliran air hingga ke kawasan Luweng Gunung Ringin.

Tahap teknis yang disusun meliputi pemasangan bronjong di bibir luweng, revitalisasi lubang dengan kedalaman hampir sembilan meter, serta pengangkatan batuan dan material sampah yang menutup saluran.

“Jalur air di sekitar luweng juga akan diperbaiki agar aliran kembali lancar,” ujar Endah.

Bupati Endah menegaskan, pekerjaan teknis tersebut akan dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum.

Target pengerjaan penuh membutuhkan waktu sekitar empat bulan dan akan berlanjut hingga 2026.

Meski demikian, sejumlah langkah darurat dipastikan rampung lebih cepat demi mengantisipasi datangnya musim hujan.

“Gerakan Jumat Bersih akan dirutinkan. Minimal dengan membersihkan luweng dari sampah, kita menjaga alam tetap lestari. Jangan menunggu bencana datang,” ujarnya.

Di tingkat lokal, luweng yang menjadi sasaran bersih-bersih memiliki peran vital.

Menurut Lurah Pacarejo Suhadi, aliran air dari luweng tersebut berdampak langsung terhadap 9 RT di Dusun Wangen Lor, 8 RT di Wangen Kidul, dan 4 RT di Wilayu.

Tidak hanya rumah warga, tetapi juga sawah dan ladang pertanian kerap terdampak luapan air saat musim penghujan.

Dalam kondisi kemarau, mata Suhadi, luweng yang sama justru menjadi penopang kehidupan warga.

Air yang tersimpan di dalam rongga karst digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sekaligus irigasi pertanian.

Namun, karena dangkal dan sering tertutup material bawaan hujan, fungsi penampungan itu terus berkurang dari tahun ke tahun.

“Jika pengerukan dan penjagaan ini konsisten, manfaatnya besar, baik untuk mengurangi risiko banjir maupun menjaga ketersediaan air bagi warga dan pertanian,” kata Suhadi.

Menurut Bupati Gunungkidul, geografis Bumi Handayani dikenal memiliki bentang alam karst dengan sistem sungai bawah tanah yang unik.

Luweng menjadi bagian penting dari sistem itu, menurutnya berfungsi sebagai pintu masuk air hujan menuju lapisan tanah dalam.

Jika luweng tertutup, air tidak masuk ke sungai bawah tanah, melainkan meluap di permukaan.

Karena itu, Endah menekankan perawatan luweng bukan hanya soal kebersihan lingkungan, melainkan juga upaya menjaga keseimbangan ekosistem.

“Langkah ini diharapkan bukan hanya mengurangi ancaman bencana, tetapi juga menjadi fondasi ketahanan air bagi warga Gunungkidul yang mayoritas hidup dari sektor pertanian,” tutup Endah. (bas)

Editor : Bahana.
luweng Pemkab Gunungkidul