GUNUNGKIDUL - Di tengah meningkatnya harga benih impor yang kerap memberatkan petani, seorang perempuan muda asal Padukuhan Ngijo, Kalurahan Semin, Kapanewon Semin, Gunungkidu Elza Amalia memilih jalan berbeda.
Ia adalah petani generasi Z yang berhasil mengembangkan benih sayuran sendiri untuk kebutuhan rumah tangga dan lingkungan sekitar. “Satu bungkus benih impor bisa Rp 10 ribu, tapi isinya hanya beberapa biji. Tingkat keberhasilan penyemaiannya juga rendah,” ujarnya saat ditemui di greenhouse miliknya pada Senin, (8/9).
Dari kegelisahan itu, Elza berpikir untuk mencoba mengembangkan benih sendiri. Ia membiarkan tanaman seperti daun mint, stevia, hingga bayam batang putih dan bayam batang pink berbunga. Lalu memanen bijinya. Benih-benih itu kemudian dikeringkan selama dua minggu, disimpan, lalu disemai kembali.
Hasilnya mengejutkan. Benih hasil pengembangan sendiri justru lebih tahan dan tingkat keberhasilannya lebih tinggi dibandingkan benih impor. “Saya kaget sekaligus senang, ternyata bisa panen dengan kualitas yang sama,” kata Elza sambil tersenyum.
Elza menjalankan semua proses ini di sebuah greenhouse kecil yang ia bangun dengan sistem hidroponik. Metode ini dipilih karena lebih praktis, higienis, dan tidak membutuhkan lahan luas.
Menurutnya, hidroponik memberi peluang besar bagi anak muda yang ingin bertani meski tinggal di wilayah padat. “Kalau tidak punya lahan, ada alternatif lain seperti hidroponik. Ini sangat cocok untuk generasi muda. Keren, modern, dan hasilnya nyata,” ujarnya.
Bagi Elza, bertani bukan hanya soal menanam dan panen. Lebih jauh, ini adalah soal kedaulatan pangan. Ia menekankan pentingnya petani muda untuk berinovasi agar tidak bergantung pada produk impor yang harganya terus naik.
“Benih tomat impor misalnya, satu biji bisa Rp 700. Mahal sekali. Kalau semua bisa kita kembangkan sendiri, biaya produksi bisa ditekan, dan petani jadi lebih berdaulat,” tambahnya.
Ketekunan Elza membuahkan hasil nyata. Kini ia tidak lagi membeli benih bayam dan beberapa jenis sayuran lain, melainkan mengandalkan hasil pengembangannya sendiri. Bahkan sebagian hasil panennya ia bagikan atau jual ke tetangga. Elza berharap langkah kecilnya dapat menginspirasi generasi muda lain.
Menurutnya, bertani bukan pekerjaan kuno yang identik dengan kotor dan berat, tetapi profesi modern yang bisa dilakukan dengan inovasi. Dengan semangat tersebut, Elza terus melanjutkan eksperimennya. Setelah sukses dengan bayam dan stevia, ia kini menargetkan tomat, cabai, dan terong untuk dikembangkan dengan metode serupa. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo