Sejumlah siswa penerima manfaat menyelipkan secarik kertas berisi permintaan menu di dalam ompreng atau kotak makan yang mereka terima.
Pesan yang ditulis anak-anak tersebut beragam. Ada yang meminta menu mi ayam, ada pula yang berharap bisa mendapat sambal bawang.
Penanggung jawab vendor penyedia MBG di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jatiayu Kapanewon Karangmojo Muncarno, mengaku merasa haru mendapat pesan kaleng tersebut.
“Baru pertama kali MBG di Kapanewon Karangmojo, pas pulang ompreng di dalam ada tulisan anak-anak. Kami bangga dan terharu. Ini tanda program MBG diterima” ujar Muncarno saat dihubungi pada Jumat, (22/8/2025).
Menurut Muncarno pihaknya tidak pernah meminta siswa memberikan ulasan. Aksi ini dilakukan secara spontan.
Ia menilai pesan tersebut sebagai bentuk apresiasi sekaligus keinginan siswa agar menu lebih variatif.
Ia menyebut bahwa menu MBG telah disusun sesuai standar gizi nasional. Dalam satu kotak terdapat takaran karbohidrat, protein, sayur, dan buah.
Meski begitu, pesan anak-anak soal variasi menu menjadi masukan bagi penyelenggara.
Kamis lalu (21/8) menjadi pengiriman perdana program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto di Kapanewon Karangmojo, Gunungkidul.
Sebanyak 2.866 paket makan bergizi dikirim ke 27 sekolah, sesuai target awal Badan Gizi Nasional (BGN) yang menetapkan jumlah di bawah 3.000 penerima untuk tahap pertama.
“Ada yang minta mie ayam, anggur hijau, hingga sambel bawang,” kata Muncarno.
Terpisah, Komandan Kodim 0730/Gunungkidul, Letkol Inf Roni Hermawan yang turut memantau pelaksanaan mengakui adanya pesan-pesan unik dari siswa.
Ia menegaskan, semua menu tetap harus sesuai standar gizi dan aman dikonsumsi. Meski demikian, Roni mengapresiasi cara siswa menyampaikan aspirasi.
“Terkait pesan sambal, kita tidak perkenankan karena bisa berisiko menimbulkan sakit perut. Saya senang mendengar masukan. Ini komunikasi dua arah yang baik. Harapannya memacu kepala dapur untuk membuat menu lebih variatif,” ujarnya.
Baik vendor maupun aparat TNI sepakat masukan ini akan dijadikan pertimbangan untuk pengembangan menu.
Namun, perubahan tidak bisa dilakukan seketika. Program MBG sendiri menjadi salah satu program unggulan nasional di bidang ketahanan pangan dan kesehatan.
Kehadiran surat kaleng dari anak-anak, kata Roni, menandai antusiasme tinggi penerima manfaat sekaligus membuka ruang dialog antara penyelenggara dan peserta.
“Kami tidak menutup diri, tapi harus sesuai SOP gizi yang berlaku,” kata Roni. (bas)
Editor : Bahana.