GUNUNGKIDUL – Kondisi darurat sampah mulai mengintai wilayah Gunungkidul. Itu karena Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari di Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari kini berada di ambang batas daya tampung. Tumpukan sampah yang kian menggunung membuat usia operasionalnya memasuki tahap kritis.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul pun mulai menyiapkan langkah strategis dengan membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul Antonius Hary Sukmono, menyebut pembangunan TPST menjadi kebutuhan mendesak agar pengelolaan sampah lebih berkelanjutan.
“Daya tampung TPAS Wukirsari sudah mendekati batas akhir. Supaya tidak overload, kami sedang menyusun dokumen readiness criteria (RC) yang jadi syarat pembangunan TPST,” ujarnya saat ditemui di DLH Gunungkidul pada Kamis, (21/8/2025).
Hary menyebut dokumen RC akan mencakup masterplan TPST, detail engineering design, serta kajian lingkungan seperti UKL-UPL. Menurutnya semua persyaratan ini harus dipenuhi sesuai arahan kementerian.
Dalam hal pendanaan pembangunan, Hary pun mengaku jika hanya mengandalkan APBD, anggarannya masih terbatas. Sehingga, pihaknya kini tengah mengajukan dana pembangunan melalui proposal senilai Rp 70 miliar ke pemerintah pusat.
Terkait model pengolahan berbasis TPST, kata Hary, sebelumnya telah diterapkan di Bantul dan Sleman. Ia berharap Gunungkidul bisa mengikuti jejak tersebut agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penimbunan sampah. “Kami serahkan sepenuhnya pada kebijakan pemerintah pusat. Harapannya disetujui, karena kondisi di lapangan sudah mendesak,” kata Hary.
Kondisi darurat juga diakui Kepala TPAS Wukirsari, Heri Kuswantoro. Menurutnya, dari total luas 9,1 hektar, sekitar lima hektar zona aktif sudah penuh sesak. TPAS Wukirsari saat ini menanggung seluruh beban sampah Gunungkidul, mulai dari rumah tangga, aktivitas ekonomi, hingga pariwisata yang terus tumbuh.
Dengan volume sampah yang kian meningkat, kapasitas penimbunan dipastikan tidak akan bertahan lama.
“Saat ini hanya tersisa lahan kosong yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Kami rencanakan pengembangan dengan konsep TPST, tapi belum tahu kapan bisa dimulai,” jelasnya. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo