Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Musim Kemarau, Telaga Kepuh di Giring, Gunungkidul Kering, Warga Andalkan Sumber Lain

Yusuf Bastiar • Sabtu, 16 Agustus 2025 | 15:05 WIB
KEMARAU BASAH: Kondisi Telaga Kepuh di Padukuhan Pengos Kalurhan Giring Paliyan mengalami kekeringan Jumat (15/8).
KEMARAU BASAH: Kondisi Telaga Kepuh di Padukuhan Pengos Kalurhan Giring Paliyan mengalami kekeringan Jumat (15/8).

GUNUNGKIDUL - Telaga Kepuh di Padukuhan Pengos, Giring, Paliyan, Gunungkidul mengalami kekeringan. Keringnya sumber air utama masyarakat setempat ini sudah terjadi sejak Juli.

Dukuh Pengos Ratno Bayu Murti menjelaskan, Telaga Kepuh dulunya mampu menyimpan air sepanjang tahun. Sebab lokasinya berada di cekungan.

 Baca Juga: Penerapan KUHP Baru mulai 2026, Anak Pidana Akan Kerja Sosial di MAJT An-Nuur Magelang

“Simbah-simbah dulu cerita, kalau musim hujan air berkumpul di situ dan bertahan sampai musim kemarau. Warga memanfaatkannya untuk minum, masak, mandi, dan mencuci,” bebernya saat ditemui di Kalurahan Giring Jumat (15/8).

Namun seiring waktu, pemanfaatan telaga lebih banyak untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan peternakan. Kebutuhan air minum kini dipenuhi warga dari sumber mata air langsung atau membeli air tangki saat kemarau.

 Baca Juga: Ada Cawe-Cawe DPD dan Money Politic Sebabkan Dualisme DPC Partai Golkar Kebumen Jelang Musda

Namun sejak dua pekan terakhir, Telaga Kepuh sudah benar-benar kering. Kondisi ini, katanya, bukan kali pertama terjadi. “Hampir sepuluh tahun terakhir, tiap kemarau telaga kering,” bebernya.

Padahal, lanjutnya, pondasi kanan dan kiri telaga sudah dipertebal dan diplester agar air tak lagi merembes. “Tapi waktu pekerjaan belum selesai, Oktober 2024 hujan deras datang, air penuh, dan pondasi sisi barat jebol,” ungkapnya.

 Baca Juga: Abraham Samad Dipanggil Polda Metro Jaya Terkait Laporan Ijazah Jokowi

Akibatnya, saat musim kemarau datang, telaga tak mampu menahan air. Warga pun kembali mencari alternatif. Seperti mengambil air dari sumber yang masih mengalir atau membeli air tangki. “Telaga Kepuh ini sebenarnya jadi nadi suplai air bagi masyarakat kami. Tapi kalau kering seperti ini, kami harus mencari sumber lain,” sebut Ratno.

Sekretaris Desa Kalurahan Giring Sigit Handoyo menuturkan, Telaga Kepuh dimanfaatkan enam dari sembilan padukuhan di wilayahnya. Menurutnya, ada sekitar 500 kepala keluarga yang mengandalkan Telaga Kepuh. Setiap tahun sebelum Rasulan, kata Sigit, warga membersihkan telaga dalam rangka ritual adat sebagai bentuk penghormatan. Kini, pemerintah kalurahan berencana melakukan perbaikan lanjutan. 

 Baca Juga: Ternyata Begini Evolusi Bendera Indonesia dari Tahun ke Tahun

“Karena pondasi sempat jebol, nanti akan kita revitalisasi lagi supaya ke depan tidak cepat kering,” beber Sigit. (bas/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Kekeringan #kemarau #mata air #Telaga Kepuh #Hujan #Air #telaga #musim kemarau #Padukuhan Pengos #SUMBER #kemarau basah