GUNUNGKIDUL - Di tengah derasnya arus teknologi digital yang kini menjangkau anak-anak usia sekolah dasar, SDN 1 Petoyan, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Saptosari, Kabupaten Gunungkidul, mengambil langkah berbeda. Sekolah dengan total 68 siswa, 33 putra, dan 35 putri ini mulai mengajarkan literasi keamanan digital sejak dini guna membekali murid dengan keterampilan aman berinternet.
Kepala SDN 1 Petoyan Febrianto menilai, pendidikan keamanan digital merupakan kebutuhan mendesak. Itu menjadi bekal penting bagi siswa sekaligus upaya membangun lingkungan digital yang sehat di sekolah.
“Sehingga, keamanan digital, aturan, dan tata cara berperilaku baik saat menggunakan teknologi digital harus diajarkan sejak duduk di bangku sekolah dasar,” ujar Febrianto saat ditemui di ruang kelas, kemarin (14/8).
Langkah ini berawal dari pelatihan Training of Trainers (ToT) yang diikuti tiga guru SDN 1 Petoyan pada Mei-Juli 2025. Pelatihan diselenggarakan oleh Combine Resource Institution dan Pujiono Center. Dengan fokus literasi digital dan keamanan internet.
Usai pelatihan, para guru mengimbaskan materi kepada siswa dan orang tua. Urgensi pengajaran ini semakin terasa setelah Rejepbianti, salah satu guru kelas VI menemukan salah satu siswanya bergabung ke grup WhatsApp berisi percakapan dewasa.
“Ternyata dia masuk grup itu dari link ajakan di media sosial. Anak-anak sekarang pegang HP (handphone, Red) sejak kecil. Kalau tidak diimbangi pengetahuan keamanan digital, dampaknya bisa buruk baik secara mental, perilaku, bahkan pada keluarga dan sekolah,” katanya.
Dalam sesi literasi digital yang diikuti 21 siswa, materi disampaikan seputar etika penggunaan gawai, keamanan data pribadi, hingga cara mengenali tautan dan ajakan mencurigakan di internet.
Menurutnya, anak-anak tampak antusias mengikuti pelajaran. Meski, materi ini masih tergolong baru bagi mereka dibandingkan pelajaran rutin di kelas. Selain siswa, SDN 1 Petoyan juga melibatkan orang tua dalam pelatihan. Tujuannya, membangun buffer capacity di keluarga untuk memantau penggunaan internet anak.
“Orang tua bisa memastikan anak tetap fokus belajar dan meminimalkan risiko ancaman digital,” jelasnya. (bas/zam)
Editor : Herpri Kartun