GUNUNGKIDUL - Konflik antara monyet ekor panjang (MEP) dan warga masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Gunungkidul. Satwa ini kerap turun ke permukiman dan menyerang tanaman pertanian akibat kekurangan makanan, air, dan tempat tinggal di habitat aslinya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul, Antonius Hary Sukmono, menjelaskan, interaksi negatif antara MEP dan manusia hampir terjadi di seluruh wilayah Gunungkidul.
Sejak 2023, penanganan jangka pendek yang dilakukan adalah memberi makan monyet dengan sayur-sayuran di beberapa titik lahan pertanian warga.
“Namun, setelah stok habis, monyet kembali menyerang tanaman,” ujar Hary pada Selasa, (12/8).
Menurut Hary, solusi jangka panjang harus fokus pada pemulihan habitat alami. Salah satu caranya adalah menanam pohon resan, yang selain menjadi tempat tinggal juga menyediakan pakan alami berupa daun muda.
Jenis tanaman lain yang direkomendasikan antara lain talok dan jambu biji yang memiliki nilai ekonomi rendah sehingga bisa ditanam secara berkelanjutan oleh masyarakat.
“Upaya kami selama ini memberikan stimulus berupa bibit pohon, monitoring, dan sosialisasi kepada petani agar mereka menanam di lahan masing-masing. Ini perlu komitmen bersama,” tegasnya.
Menurut Hary di tingkat warga, langkah antisipasi dilakukan dengan memasang jaring di sekitar tanaman untuk mencegah serangan MEP. Meski demikian, kerugian tetap dialami petani akibat tanaman yang rusak.
Sementara itu, pihak swasta turut berkontribusi dalam penanganan masalah ini. Perwakilan Mitsui Sumitomo Insurance Gunawan Setiaji mengungkapkan pihaknya telah melakukan pemulihan hutan buah di kawasan Margasatwa Paliyan.
Ia menambahkan, keberadaan kawasan khusus hutan buah membuat MEP terkonsentrasi di habitat tersebut karena kebutuhan makanannya terpenuhi, bahkan di musim kemarau.
“Kalau ekosistemnya terjaga, monyet tidak perlu keluar hutan. Memang ada potensi perebutan wilayah antar koloni, tapi selama suplai makanan cukup, mereka tetap berada di kawasan yang sama,” kata Gunawan. (cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo