Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kisah Mengembalikan Suaka Margasatwa Paliyan Kembali Jadi Hutan usai Terdampak Penebangan Liar Pascareformasi

Yusuf Bastiar • Senin, 11 Agustus 2025 | 12:05 WIB

 

Gunawan sedang menunjukkan pohon resan atau beringin yang ditanam di kawasan konservasi margasatwa Paliyan Jumat (8/8).
Gunawan sedang menunjukkan pohon resan atau beringin yang ditanam di kawasan konservasi margasatwa Paliyan Jumat (8/8).

 

 

GUNUNGKIDUL - Dua puluh tahun lalu, hamparan karst di Paliyan, Gunungkidul, nyaris tak menyisakan pohon. Hutan produksi yang dulu rimbun dengan jati, mahoni, dan sonokeling berubah menjadi lahan gersang akibat maraknya penebangan liar pascareformasi 1998.

 

 Pada 2005, dimulai langkah pemulihan. Alih-alih mengembalikan konsep hutan produksi semata, mereka membangun hutan kebun yang memadukan 15 jenis pohon kayu keras dan 15 jenis pohon buah. Jenis kayu keras yang ditanam antara lain johar, gamal, secang, turi, dan ketapang.

 Sementara pohon buah meliputi pete, sawo, melinjo, asam jawa, hingga jambu air.

 “Kayu keras untuk mendukung ekosistem, pohon buah untuk menyediakan sumber makan satwa,” jelas Gunawan Setiaji, perwakilan Mitsui Sumitomo Insurance, saat ditemui di Pusat Pembibitan Native Species Karst, Suaka Margasatwa (SM) Paliyan pada Minggu pagi, (10/8).


Sejak dimulai, tercatat 324.773 pohon telah tumbuh di lahan konservasi seluas 434,6 hektare, kata Gunawan, separuhnya kayu keras, separuhnya buah-buahan. Hasilnya mulai terlihat empat tahun kemudian. Pada 2009, ia menyebut tim konservasi mendata 29 jenis burung kembali menghuni Paliyan.

 

Jumlahnya meningkat menjadi 44 jenis pada 2011 dan bertahan di kisaran 44 jenis saat musim hujan serta 36 jenis saat kemarau. Jenis-jenis burung yang kini kerap terlihat antara lain cekakak sungai, sinenen pisang, dan cabai jawa. “Waktu kami datang, hampir tidak ada burung. Sekarang, suaranya memenuhi hutan,” kata Gunawan.

Baca Juga: Sambut Hari Kemerdekaan, Warga Padukuhan Demangan, Maguwoharjo, Depok, Sleman Gelar Lomba Gerak Jalan dengan Kostum Unik

Pemulihan juga berdampak pada serangga penyerbuk. Pada 2006 hanya ada lima jenis kupu-kupu yang terpantau. Empat tahun kemudian, jumlahnya naik hampir tiga kali lipat menjadi 14 jenis. Penghuni lama Paliyan, menurut Gunawan, monyet ekor panjang, kini tercatat hidup dalam empat koloni besar dengan total populasi sekitar 400 ekor.

 

Dengan kombinasi keteguhan menjaga dan kesabaran menanam, Gunawan kini bisa menyaksikan Paliyan yang dulu gundul kini tumbuh sebagai hutan buah yang bukan hanya memulihkan pepohonan, tetapi juga mengembalikan denyut kehidupan alam. 


Seluruh flora dan fauna di kawasan ini berada di bawah perlindungan penuh. Agus Sunarto, Polisi Hutan SM Paliyan, menegaskan larangan mutlak atas penebangan dan perburuan. “Burung, serangga, bahkan monyet pun dilindungi. Tidak boleh ada aktivitas yang merusak ekosistem,” tegasnya. (cr1)

 

Editor : Heru Pratomo
#suaka margasatwa #Paliyan #hutan produksi #penebangan liar