GUNUNGKIDUL - Matahari pagi di Pantai Ngobaran masih hangat ketika denting gamelan perlahan mengalun dari arah Pura Segara Wukir. Di antara debur ombak dan aroma dupa yang menyeruak ke udara, ratusan umat Hindu dari berbagai penjuru Jogjakarta dan Pulau Bali mulai berkumpul untuk mengikuti Upacara Piodalan ke-6 Sasih Karo, Jumat (8/8).
Menggunakan pakaian adat putih bersih dan bunga di tangan, para pemedek khusyuk menapaki halaman pura yang berdiri di atas tebing karst. Bukan sekadar perayaan ulang tahun pura, Piodalan adalah momentum sakral pengingat akan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Hyang Widhi.
“Ini bukan hanya ritual, tapi perjalanan spiritual,” ucap Didik Widya Putra, Pembina Hindu Kanwil Kementerian Agama DIJ, di sela-sela prosesi pada Jumat, (8/8).
Didik menyebut Pura Segara Wukir sebagai pusat spiritual yang makin hidup, sekaligus simbol toleransi dan keberagaman di pesisir selatan Jogjakarta. Didik juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dalam menjaga dan memfasilitasi kegiatan keagamaan umat Hindu, namun ia juga menggarisbawahi pentingnya peningkatan akses ke lokasi.
“Umat yang datang semakin banyak tiap tahun. Jalan dan infrastruktur perlu dibenahi agar semua bisa beribadah dengan nyaman,” katanya.
Berdiri megah di kawasan eksotis Pantai Ngobaran, Pura Segara Wukir tak sekadar jadi tempat sembahyang. Ia adalah simpul tradisi, ruang berkumpul, dan sekaligus saksi keteguhan umat dalam menjaga warisan leluhur.
Selama Piodalan, umat menjalani berbagai prosesi suci, dari pujawali, sesajen, doa bersama, hingga pentas budaya. Semuanya berjalan khidmat, penuh kesadaran spiritual dan penghormatan kepada alam.
Kepala Kantor Kementerian Agama Gunungkidul Mukotip mengatakan, Piodalan menjadi jembatan antara spiritualitas dan harmoni sosial. Ia juga menegaskan bahwa umat Hindu di Gunungkidul telah menjadi pelopor dalam menjaga lingkungan hidup, karena nilai-nilai agama yang mereka anut menempatkan alam sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan spiritual.
Di antara sesaji dan doa yang dilantunkan dengan syair-syair kuno, suasana religius membalut udara Pura Segara Wukir. Tak hanya umat Hindu yang datang untuk sembahyang, warga lokal dan wisatawan juga turut menyaksikan, menyatu dalam suasana yang damai dan bersahaja.
“Ini wujud syukur atas berkah Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus sarana menjalin silaturahmi. Kita diajarkan untuk hidup selaras: dengan sesama, dengan alam, dan dengan Tuhan,” tuturnya.
Di tengah kesibukan pembangunan dan arus modernisasi, Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto mengingatkan makna terdalam dari upacara ini. Menurutnya, Piodalan adalah cermin bakti dan rasa syukur, sekaligus komitmen menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.
Ia berharap, nilai-nilai spiritual yang lahir dari upacara ini bisa membawa keteguhan hati dan semangat membangun daerah secara kolektif. “Melalui Piodalan, kita diajak untuk tidak melupakan akar tradisi. Ini bukan hanya soal upacara, tapi tentang memperkuat iman dan hidup dalam kedamaian,” tuturnya. (cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo