Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masuki Puncak Kemarau, 24 Ribu Warga di 10 Kapanewon di Gunungkidul Terancam

Yusuf Bastiar • Rabu, 6 Agustus 2025 | 17:10 WIB
ilustrasi penyaluran air bersih untuk warga yang terdampak kekeringan di Gunungkidul.
ilustrasi penyaluran air bersih untuk warga yang terdampak kekeringan di Gunungkidul.

 

 

GUNUNGKIDUL – Memasuki puncak musim kemarau pada Agustus ini, ancaman kekeringan mulai membayangi wilayah selatan Kabupaten Gunungkidul. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat 24.137 jiwa di 10 kapanewon berpotensi terdampak krisis air bersih.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Sumadi menyebut, Kapanewon Panggang sebagai wilayah terdampak paling luas. Dengan jumlah penduduk terancam mencapai 13.624 jiwa.

“Panggang paling besar, kemudian disusul Saptosari dengan 2.916 jiwa dan Girisubo 2.612 jiwa,” ujar Sumadi saat dikonfirmasi pada Selasa, (5/8).

Tujuh kapanewon lain juga melaporkan potensi kekeringan, namun dengan jumlah warga terdampak di bawah 2.000 jiwa. Sejauh ini, baru 10 dari 18 kapanewon di Gunungkidul yang menyerahkan laporan potensi rawan kekeringan ke BPBD.

Sumadi menjelaskan, berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau di Gunungkidul akan berlangsung hingga akhir September atau awal Oktober.

Meski belum ada permintaan resmi dari warga maupun pemerintahan tingkat kapanewon untuk pengiriman air bersih, BPBD memastikan semua kebutuhan logistik telah disiapkan. Total ada 1.360 tangki air bersih dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter telah dipersiapkan.

“Armada siap, personel 24 orang sudah standby, dan air bersih sudah tersedia. Tinggal menunggu permintaan,” tegas Sumadi.

BPBD juga telah menyelesaikan rapat koordinasi bersama 18 kapanewon untuk memetakan potensi kekeringan dan kesiapsiagaan penanganannya. Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono, menyebut belum adanya permintaan dropping air hingga awal Agustus ini diduga karena faktor kemarau basah.

Artinya, meskipun sudah memasuki musim kemarau, masih ada hujan dalam intensitas ringan hingga sedang di beberapa wilayah.

 Baca Juga: Jadi Cermin Kemiskinan, Pemkab Kulon Progo Berharap Penerima Bantuan Pangan Tak Bertambah

Meskipun belum terjadi krisis akut, BPBD meminta seluruh masyarakat dan pemerintah desa tetap siaga, terutama di wilayah-wilayah langganan kekeringan di bagian selatan Gunungkidul seperti Girisubo, Rongkop, Tanjungsari, Panggang, Ponjong, hingga Karangmojo.

BPBD memastikan, bila kondisi memburuk dan permintaan droping meningkat, pihaknya siap bergerak cepat. “Kami pastikan tidak akan terlambat. Semua sudah kami siapkan, tinggal bergerak,” tuturnya. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Kekeringan #rongkop #dropping air #Gunungkidul #krisis air bersih #Girisubo #BPBD #kapanewon #puncak kemarau #Saptosari #BMKG #Panggang