GUNUNGKIDUL - Memasuki puncak musim kemarau pada Agustus ini, ancaman kekeringan mulai membayangi wilayah selatan Kabupaten Gunungkidul.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat sedikitnya 24.137 jiwa di 10 kapanewon berpotensi terdampak krisis air bersih.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul, Sumadi, menyebut Kapanewon Panggang sebagai wilayah terdampak paling luas dengan jumlah penduduk terancam mencapai 13.624 jiwa.
“Data sementara kami mencatat total 24.137 jiwa yang terancam kekeringan. Panggang paling besar, kemudian disusul Saptosari dengan 2.916 jiwa dan Girisubo 2.612 jiwa,” ujar Sumadi saat dikonfirmasi pada Selasa, (5/8/2025).
Tujuh kapanewon lain juga melaporkan potensi kekeringan, namun dengan jumlah warga terdampak di bawah 2.000 jiwa.
Sejauh ini, baru 10 dari 18 kapanewon di Gunungkidul yang menyerahkan laporan potensi rawan kekeringan ke BPBD.
Sumadi menjelaskan, berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau di Gunungkidul akan berlangsung hingga akhir September atau awal Oktober.
BPBD pun telah menginstruksikan seluruh pemerintah kapanewon untuk segera menyelesaikan pemetaan wilayah terdampak.
Meski belum ada permintaan resmi dari warga maupun pemerintahan tingkat kapanewon untuk pengiriman air bersih, BPBD memastikan semua kebutuhan logistik telah disiapkan.
Total ada 1.360 tangki air bersih dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter telah dipersiapkan.
“Kami sudah siapkan semuanya. Armada siap, personel 24 orang sudah standby, dan air bersih sudah tersedia. Tinggal menunggu permintaan dropping dari masyarakat atau kapanewon,” tegas Sumadi.
BPBD juga telah menyelesaikan rapat koordinasi bersama 18 kapanewon untuk memetakan potensi kekeringan dan kesiapsiagaan penanganannya.
Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono, menyebut belum adanya permintaan droping air hingga awal Agustus ini diduga karena faktor kemarau basah.
Artinya, meskipun sudah memasuki musim kemarau, masih ada hujan dalam intensitas ringan hingga sedang di beberapa wilayah.
“Kami sudah lakukan koordinasi sejak awal. Dari 18 kapanewon, 10 di antaranya sudah menyiapkan anggaran untuk droping air bersih jika diperlukan,” jelas Purwono.
Meskipun belum terjadi krisis akut, BPBD meminta seluruh masyarakat dan pemerintah desa tetap siaga, terutama di wilayah-wilayah langganan kekeringan di bagian selatan Gunungkidul seperti Girisubo, Rongkop, Tanjungsari, Panggang, Ponjong, hingga Karangmojo.
BPBD memastikan, bila kondisi memburuk dan permintaan droping meningkat, pihaknya siap bergerak cepat.
“Kami pastikan tidak akan terlambat. Semua sudah kami siapkan, tinggal bergerak,” pungkas Sumadi. (cr1)
Editor : Bahana.