GUNUNGKIDUL - Pantai yang berada di pesisir selatan Gunungkidul tak hanya menyajikan keindahan alam. Tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang besar melalui sumber daya lautnya. Salah satu komoditas yang kini mulai mendapat sorotan adalah rumput laut atau yang lebih dikenal masyarakat lokal sebagai karangan.
Jenis rumput laut dengan warna hijau, coklat, dan merah tumbuh subur di pesisir selatan Bumi Handayani. Seperti di Pantai Drini, Krakal, dan Sepanjang.
Namun, potensi ini masih belum tergarap optimal. Sebab, sebagian besar rumput laut diambil langsung dari alam liar oleh nelayan dan belum dibudidayakan secara sistematis.
“Ekosistem laut sangat menentukan sebaran, pertumbuhan, dan kandungan nutrisi rumput laut,” ungkap peneliti dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Playen Jasmadi saat dihubungi Rabu (30/7).
Dia menjelaskan, jenis rumput laut coklat seperti Sargassum sp tumbuh baik di kawasan perairan berbatu. Hal ini disebabkan karakteristik khas pantai-pantai Gunungkidul yang menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhannya.
Meski saat ini masih mengandalkan hasil tangkapan liar, Jasmidi menilai, rumput laut di Gunungkidul menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi bahan baku berbagai industri. Mulai dari pangan seperti agar-agar, kosmetik, produk kesehatan, hingga pupuk organik.
“Dengan teknik budi daya yang tepat, potensi ini bisa meningkatkan pendapatan nelayan sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi masyarakat,” ujar Jasmadi.
Baca Juga: Awas, KPK Awasi Praktik Tambang Ilegal di Seluruh Wilayah DIY
Beberapa pelaku UMKM lokal, lanjutnya, bahkan telah mulai mengolah karangan menjadi produk siap konsumsi. Seperti camilan goreng berbasis tepung dan agar-agar.
Inisiatif ini dinilai sebagai langkah awal menuju diversifikasi produk olahan rumput laut. Tak hanya bernilai ekonomi, rumput laut juga memiliki kandungan gizi tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan.
Sebab dengan kandungan serat, kalsium, zinc, magnesium, dan berbagai senyawa bioaktif yang bersifat anti-tumor, anti-diabetik, antibakteri, hingga anti-aging, menjadikan karangan sebagai komoditas dengan nilai tambah tinggi.
“Dengan kandungan bioaktif ini, rumput laut berpeluang besar dikembangkan untuk produk kesehatan dan kosmetik seperti suplemen maupun skincare alami,” beber Jasmadi.
Meski menjanjikan, pengembangan rumput laut di Gunungkidul masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah lokasi yang terpapar gelombang tinggi, konflik penggunaan lahan pantai, serta potensi pencemaran lingkungan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Jasmadi mendorong penerapan budi daya terkontrol sebagai solusi berkelanjutan. Edukasi dan pelatihan bagi nelayan juga dinilai penting untuk transisi dari tangkapan liar ke sistem budi daya yang lebih stabil.
“Kolaborasi antara pemerintah, peneliti, pelaku UMKM, dan sektor swasta menjadi kunci dalam mendorong teknologi pengolahan dan pemasaran produk rumput laut di Gunungkidul,” tandasnya. (cr1/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita