Dua bangunan warung milik pedagang dirusak orang tak dikenal. Salah satunya bahkan dirobohkan total.
Sebuah banner bertuliskan kutipan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX pun turut dirusak.
Menyisakan pertanyaan besar tentang motif dan pelaku di balik tindakan intimidatif ini.
Pagi hari, Pantai Sanglen masih diguyur hujan dan angin kencang. Saat cuaca mulai reda siang harinya, para pedagang mulai berdatangan.
Mereka tak menyangka, kawasan yang selama ini mereka rawat dan gunakan untuk mencari nafkah justru menjadi lokasi perusakan yang mengarah pada teror.
“Saya sampai sini lihat bangunan saya sudah berantakan. Atap bolong, asbes hancur. Ada tulisan ditinggal, isinya menyuruh kami membongkar bangunan,” ujar Samidi, pedagang sekaligus warga Kalurahan Kemadang sembari merapikan puing-puing bangunan pada Selasa, (28/7/2025).
Menurut Samidi, bangunan miliknya juga tampak hendak dirobohkan, namun belum sepenuhnya roboh.
Ia meyakini ini bukan karena angin semata. Terlebih, dia mengaku telah merapikan bangunan beberapa hari sebelumnya. “Saya tidak takut, malah semakin semangat. Ini tanda mereka panik,” tegasnya.
Hal senada diungkapkan Rizki Muhafit, pedagang lain yang juga terdampak.
Ia menyebut tindakan ini tidak manusiawi. Rizki menegaskan akan kembali membangun warung yang telah dirobohkan.
“Bangunan ini akan saya bangun lagi. Dirobohkan ya dibangun lagi. Tanah ini bukan untuk investor, tapi harus dikelola rakyat,” ujarnya dengan suara penuh keyakinan.
Dari lokasi kejadian, ditemukan secarik surat bertuliskan ancaman: “Gelem Bongkar Ora” dan “Bongkaren iki Selanjute”.
Di antara puing bangunan, juga tampak poster bergambar wajah Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang telah dirusak.
Pendamping warga dari WALHI Jogja, Risky Abi menyebut perusakan ini sebagai bentuk intimidasi terhadap Warga.
“Tanggal 28 Juli kemarin ada surat ancaman dari Kraton kepada warga. Hari ini, 29 Juli, warung-warung mereka benar-benar dirusak,” ungkapnya saat ditemui di Pantai Sanglen.
Ia menambahkan, dugaan kuat tindakan ini berkaitan dengan konflik agraria yang masih berlangsung di kawasan pesisir selatan Gunungkidul.
Pantai Sanglen dalam beberapa tahun terakhir memang menjadi titik konsentrasi konflik antara warga lokal dan upaya penguasaan lahan untuk kepentingan pariwisata dan investasi.
Warga yang selama ini menjaga dan mengelola kawasan tersebut menolak jika tanah mereka dialihkan ke tangan investor.
“Ini tidak bisa dilihat sebagai sekadar perusakan bangunan. Ini intimidasi terhadap rakyat kecil yang mempertahankan hak mereka atas ruang hidup,” tegas Risky.
Situasi di Pantai Sanglen hingga sore hari masih dikunjungi wisatawan.
Meski demikian, warga tetap melayani kedatangan wisatawan, tetapi juga saling gotong royong merapikan bangunan yang dirobohkan. Mereka bertekad untuk terus bertahan di Pantai Sanglen.
“Bangunan kami yang di rusak, di robohkan, sikap kami tetap berdiri tegak,” tegas Samidi. (cr1)
Editor : Bahana.