Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Peternak Sapi Kesulitan Pakan saat Musim Kemarau, Rumput Liar pun Sulit Didapat

Yusuf Bastiar • Sabtu, 26 Juli 2025 | 03:40 WIB
Imam Paidi sedang merumput untuk ternak sapinya saat ditemui di Kalurahan Getas Kapanewon Playen Jumat (25/7).
Imam Paidi sedang merumput untuk ternak sapinya saat ditemui di Kalurahan Getas Kapanewon Playen Jumat (25/7).

 

GUNUNGKIDUL – Musim kemarau kembali menjadi tantangan berat bagi para peternak sapi di wilayah Gunungkidul, khususnya di Kalurahan Ngunut, Kapanewon Playen. Minimnya curah hujan membuat ketersediaan rumput sebagai pakan ternak semakin sulit didapatkan.

Imam Paidi, salah satu peternak sapi rumahan di lereng perbukitan Ngunut, menyebut, ejak awal Juli hingga akhir bulan ini, hujan nyaris tidak turun. Hal ini menyebabkan pertumbuhan rumput melambat dan pasokan pakan alami menipis.

“Kalau bulan lalu seminggu sekali masih ada hujan, walaupun enggak tentu. Tapi sekarang, rumput buat pakan sudah mulai susah dicari,” ujarnya sembari fokus merumput pada Jumat, (25/7).

Mereka tahu, ketika musim kemarau tiba, perjuangan untuk sekadar memenuhi kebutuhan pakan ternak bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang melelahkan. “Tahun kemarin, saya sampai bertiga sama teman, naik pikap, dari Playen ke Piyungan cari rumput. Seharian muter,” kenang Imam.

Medan yang ditempuh pun tidak mudah. Jika harus tetap mencari di sekitaran Gunungkidul, biasanya mereka menempuh jarak 5 sampai 10 kilometer ke arah perbukitan. Naik motor, terus jalan kaki menanjak. “Kadang cuma dapat satu ikat, harus bolak-balik dua kali. Berat juga, tapi ya mau gimana,” ujarnya lirih.

Mengantisipasi kekurangan pakan, Imam menanam rumput kolonjono di pekarangan rumahnya. Namun, rumput jenis ini tidak bisa jadi satu-satunya andalan. Tapi hal itu dinilai boros, dan kebutuhan rumputnya juga makin banyak. “Kami harus campur dengan rumput liar biar hemat. Tapi rumput liar itu sekarang yang susah,” tuturnya.

Kondisi ini dirasakan pula oleh Wartono, warga Kalurahan Getas yang juga beternak sapi. Ia menyebut rumput kolonjono kini menjadi pilihan utama banyak peternak, bukan karena keunggulannya, tetapi karena hanya itu yang tersedia.

Wilayah Gunungkidul dikenal dengan lanskapnya yang berbatu dan kering. Meskipun mayoritas warganya berprofesi sebagai peternak, sumber pakan hijau tetap menjadi tantangan abadi.“Rumput liar makin susah,” katanya.

Meski begitu, para peternak seperti Imam dan Wartono tetap bertahan. Mereka percaya, selama masih ada kemauan untuk berusaha, ternak-ternak mereka akan tetap bisa hidup.

“Sering-sering ndongak langit, berharap hujan turun meski cuma sebentar. Itu saja sudah sangat berarti,” kata Imam sambil menatap langit yang hari itu sepenuhnya cerah tanpa satu awan pun. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
#kemarau #Ngarit #Pakan Ternak #Rumput Liar #Gunungkidul #Playen #ternak sapi