Ketiadaan pabrik es di kawasan pelabuhan menjadi keluhan utama para nelayan yang sangat bergantung pada es untuk menjaga kualitas hasil tangkapan mereka.
Ketua Kelompok Nelayan Mina Harja Pantai Sadeng, Sarpan, mengaku es balok merupakan kebutuhan vital bagi nelayan, terutama bagi kapal-kapal besar dan kapal sekoci yang rutin melaut.
“Kualitas ikan hasil tangkapan sangat ditentukan oleh keberadaan es balok. Tapi sampai sekarang di Pelabuhan Sadeng belum ada pabrik es sendiri. Kita beli dari Pacitan, per baloknya sekitar Rp22 ribu,” ujarnya saat ditemui pada Kamis, (25/7/2025).
Data Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul mencatat, produksi perikanan tangkap dari Pantai Sadeng pada 2023 mencapai 3.123 ton dan meningkat menjadi 3.181 ton pada 2024.
Ini menjadikan Sadeng sebagai pelabuhan penyuplai hasil laut terbesar di Gunungkidul, bahkan se-DIY. Namun, ironisnya, fasilitas pendukung seperti pabrik es masih absen.
Kebutuhan es di pelabuhan ini cukup besar. Untuk kapal besar berkapasitas 12 ton, sekali berangkat bisa menghabiskan es hingga puluhan balok.
Saat ini, terdapat 9 kapal besar dan sekitar 36 kapal sekoci berkapasitas 10–30 GT yang rutin melaut.
"Kalau cuaca bagus, dalam sebulan bisa tiga kali melaut. Jadi kebutuhan es itu tinggi dan mendesak,” tambahnya.
Selain itu, ada 115 kapal jenis jukong PMT berkapasitas 1 GT yang juga membutuhkan es, khususnya saat menangkap ikan malam seperti layur.
Meski kebutuhan mereka tidak sebesar kapal besar, ketersediaan es tetap krusial.
Upaya menghadirkan pabrik es sebenarnya pernah dilakukan pihak swasta, namun tidak bertahan lama. Kini, para nelayan kembali berharap pada pemerintah.
Kepala Bidang Perikanan Tangkap, Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, Wahid Supriyadi, membenarkan bahwa hingga kini kebutuhan es nelayan Sadeng belum terpenuhi secara lokal.
Ia mengaku Komisi B DPRD Gunungkidul sudah menyuarakan rencana pembangunan pabrik es di Pelabuhan Sadeng yang ditargetkan mulai dilaksanakan pada tahun anggaran 2026.
“Kita memang punya pabrik es di Kalurahan Siranam, Wonosari, dengan kapasitas 10 ton per hari, tapi itu hanya mencukupi kebutuhan di Wonosari sampai Pantai Baron. Belum sampai Sadeng,” ujarnya Wahid.
Sementara itu, para nelayan berharap wacana tersebut segera diwujudkan.
Sebab, tanpa pasokan es yang stabil dan terjangkau, kualitas hasil tangkapan laut akan terus terancam, dan nelayan tetap merugi. (cr1)
Editor : Bahana.