GUNUNGKIDUL - Dari total 144 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang resmi dibentuk di seluruh desa dan kelurahan di Kabupaten Gunungkidul, baru satu koperasi yang terpantau mulai bergerak menjalankan kegiatan usaha.
Sementara 143 koperasi lainnya belum menunjukkan tanda-tanda aktivitas, lantaran masih dalam tahap pembentukan awal dan belum dilakukan sosialisasi terkait permodalan.
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja Gunungkidul, Supartono, menyebut pembentukan koperasi ini merupakan bagian dari program strategis pemerintah dalam memperkuat ekonomi desa.
“Seluruh koperasi Merah Putih ini dibentuk melalui Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) dan sudah mendapatkan legalisasi badan hukum dari Kemenkumham,” ujarnya saat ditemui pada Kamis, (24/7/2025).
Meskipun secara legal telah terbentuk, mayoritas koperasi belum beroperasi.
Per 21 Juli kemarin, Kopdes Merah Putih di Gunungkidul baru sampai pada tahap penyerahan akta badan hukum.
Tahap selanjutnya, kata Supartono, sosialisasi pengetahuan dasar tentang perkoperasian yang akan diselenggarakan pada 31 Juli 2025.
Pemerintah daerah, lanjutnya, masih dalam proses pemetaan dan identifikasi koperasi mana saja yang sudah mulai aktif.
Dari pantauan sementara melalui Grup WhatsApp Kopdes Merah Putih se-Gunungkidul, baru satu koperasi yang menunjukkan geliat usaha, yakni Kopdes Merah Putih di Kalurahan Playen.
“Yang lain belum kelihatan tanda-tanda kegiatan. Hal ini bisa dimaklumi karena mayoritas pengurus koperasi baru menyelesaikan urusan administratif. Belum ada pembekalan atau sosialisasi terkait operasional maupun permodalan,” tambahnya.
Hingga kini, seluruh koperasi masih mengandalkan modal awal dari simpanan pokok dan wajib anggota.
Sementara, skema pinjaman modal dari bank-bank Himbara seperti Mandiri, BRI, dan BNI kedepannya akan disosialisasikan.
Supartono menilai belum berjalannya Kopdes Merah Putih secara menyeluruh disebabkan tahap awal ini masih fokus pada legalitas secara admistrasi.
Hal senada disampaikan Carik Kalurahan Karangduwet, Kapanewon Paliyan, Istyani Kawestri.
Menurutnya, setelah Kopdes terbentuk, belum ada pertemuan lanjutan karena ketua koperasi masih menjalani ibadah haji.
“Kemungkinan baru akan rapat dan menyusun program kerja pada Agustus nanti. Pembicaraan soal dana usaha juga belum sampai ke tahap itu,” jelasnya saat dihubungi.
Baca Juga: Olahraga Lanjut Kulineran, Mengunjungi Stadion Maguwoharjo Destinasi Favorit Warga Yogyakarta untuk Beraktivitas
Dengan kondisi tersebut, tantangan ke depan tidak hanya soal modal usaha, tetapi juga kesiapan SDM dalam mengelola koperasi secara profesional dan berkelanjutan.
Pemerintah daerah menargetkan proses sosialisasi dan pendampingan bisa mempercepat aktifnya koperasi-koperasi ini, agar mampu berkontribusi nyata bagi perekonomian desa. (cr1)
Editor : Bahana.