Sebanyak 158 tukik penyu berhasil menetas dari 210 butir telur yang ditemukan di Pantai Jungwok dan Wediombo pada 21 Mei 2025.
Proses penetasan dilakukan di Pantai Ngandong dengan metode alami yang diawasi ketat oleh Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) setempat.
“Kalau ditetaskan di Jungwok atau Wediombo, risikonya terlalu tinggi. Lokasi itu sudah sangat ramai pengunjung, jadi rentan terinjak atau terganggu,” ujar Ketua Pokmaswas Pantai Ngandong, Rujiman, saat ditemui di lokasi konservasi saat dikonfirmasi pada Selasa, (22/7/2025).
Menurutnya, keputusan untuk memindahkan telur ke Pantai Ngandong bukan tanpa alasan. Pantai tersebut relatif lebih tenang dan dikelola langsung oleh kelompok masyarakat pengawas, sehingga pengawasan terhadap proses penetasan bisa dilakukan secara lebih optimal.
Penetasan dilakukan secara alami di pasir pantai dengan tetap mengikuti panduan teknis dari Dinas Kelautan dan Perikanan.
Rujiman menjelaskan bahwa telur-telur penyu perlu penanganan hati-hati sejak pertama kali ditemukan.
“Kami beri tanda di atas telur agar tidak terbalik saat dipindah. Lubangnya dibuat sesuai seperti lokasi aslinya, kedalamannya antara 50 sampai 60 cm. Kami juga menjaga suhu agar stabil selama masa inkubasi,” jelasnya.
Proses eram berlangsung selama 57 hari, hingga pada 20 Juli kemarin, telur-telur tersebut mulai menetas.
Dari 210 butir telur, sebanyak 158 tukik berhasil menetas. Hal ini mencerminkan tingkat keberhasilan sekitar 75 persen. Sisanya, 52 telur, tidak berhasil menetas.
“Ini capaian yang cukup bagus, dan menjadi motivasi buat kami agar terus melakukan konservasi secara konsisten,” ujar Rujiman.
Pagi tadi, sebanyak 40 tukik sudah dilepas ke laut dari Pantai Ngandong. Beberapa tukik lainnya telah dilepas pada hari sebelumnya, dan sisanya akan dilepas secara bertahap.
Sore ini, sebanyak 14 tukik akan dilepas di Pantai Jungwok oleh Tim Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah 1 Sadeng.
Menurut Koordinator SRI Wilayah 1 Sadeng, Sunu Handoko, pelepasan ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat dan wisatawan yang kebetulan berada di lokasi.
“Kami akan pimpin pelepasan tukik sore ini. Biasanya masyarakat atau pengunjung juga ikut menyaksikan, bahkan bisa membantu melepas tukik ke laut. Ini jadi momentum edukasi yang baik,” kata Sunu.
Pelepasan tukik, memang sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, ketika suhu pasir dan udara lebih bersahabat dan risiko pemangsa alami lebih kecil.
Tukik-tukik tersebut diharapkan dapat kembali ke laut dan suatu saat kembali ke pantai yang sama untuk bertelur, sebagaimana naluri alamiah penyu.
Keberhasilan ini tak lepas dari keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan konservasi.
Pantai Ngandong telah menjadi salah satu lokasi konservasi berbasis masyarakat yang menunjukkan dampak nyata.
Pokmaswas di pantai ini rutin melakukan patroli, edukasi, dan penyelamatan telur penyu yang ditemukan oleh warga atau wisatawan.
“Kami bukan cuma menjaga pantai, tapi juga menjaga masa depan satwa yang hampir punah ini. Kalau bukan kita, siapa lagi,” tutur Rujiman.
Kolaborasi antara warga, relawan, dan instansi pemerintah menjadi kekuatan utama di balik program konservasi ini.
Di tengah maraknya aktivitas pariwisata di kawasan pesisir, upaya menjaga kelestarian penyu menjadi tantangan tersendiri yang menuntut kesadaran dan komitmen bersama.
Dengan momentum pelepasan tukik hari ini, masyarakat Gunungkidul kembali diingatkan akan pentingnya menjaga ekosistem laut dan pesisir.
Penyu bukan sekadar ikon satwa langka, tetapi juga indikator kesehatan laut yang harus dijaga untuk generasi mendatang. (cr1)
Editor : Bahana.