GUNUNGKIDUL - Semangat kemandirian dan kreativitas ditunjukkan oleh puluhan siswa anggota Ikatan Musik (Ekamas) SMA Negeri 1 Wonosari. Mereka menggelar lapak dagangan di Alun-Alun Wonosari setiap sore, sebagai upaya menggalang dana untuk menyelenggarakan sebuah event musik yang rencananya digelar pada 12 September 2025 mendatang di Taman Budaya Gunungkidul. Salah satu anggota Ekamas, Syela Putri, menjelaskan bahwa kegiatan berjualan ini telah mereka jalankan selama hampir dua pekan.
“Kami mulai buka lapak sekitar pukul setengah empat sore hingga menjelang Magrib. Kalau masih ada sisa, biasanya dibagikan ke kelompok lain agar modal tetap tertutup,” ujarnya saat ditemui pada Minggu (20/7).
Baca Juga: Pelayanan Dasar Sektor Kesehatan, Biaya Retribusi Puskesmas di Purworejo Bakal Dihapus
Event yang mereka rancang bukan acara biasa. Dalam rencana panitia, acara akan mencakup konser musik, talkshow inspiratif, hingga penampilan mini konser yang menampilkan talenta-talenta muda dari Ekamas sendiri. Total kebutuhan anggaran untuk menyelenggarakan acara tersebut diperkirakan mencapai 90 juta.
Bahkan bisa lebih jika dihitung secara keseluruhan hingga 100 juta. Dalam menyiasati kebutuhan dana yang besar, Ekamas tidak hanya mengandalkan sponsorship, tetapi juga mengerahkan seluruh anggotanya dalam usaha mandiri.
“Kami ingin menutupi kekurangan dana dengan cara berjualan. Ini bentuk usaha kami agar event besar ini bisa terwujud,” terang Raisa Nabila, anggota Ekamas lainnya.
Produk yang dijual pun bervariasi setiap harinya. Mulai dari salad jelly hingga bakpao, semua dipasok dari mitra atau shelter, bukan hasil olahan sendiri. Penjualan dikelola secara bergilir oleh 27 kelompok, masing-masing terdiri dari empat siswa. Jadwal jaga dibagi dalam kurun waktu lebih dari satu bulan.
Aktivitas ini tidak hanya dilakukan di alun-alun. Setiap pagi, para siswa juga aktif berjualan di lingkungan sekolah dengan sistem pre-order melalui grup angkatan. Pesanan dikirim saat jam istirahat tiba. Meski mengaku lelah, semangat para siswa tetap tinggi. “Capek pasti, tapi ini semua demi Ekamas juga. Kami bangga bisa membawa nama organisasi lewat usaha seperti ini,” kata Raisa.
Hingga hari ke-13, keuntungan yang berhasil dikumpulkan baru mencapai sekitar Rp 2 juta. Padahal, target mereka dari hasil berjualan mencapai Rp 15 juta. Kendala terbesar menurut mereka adalah terbatasnya pembeli di luar lingkungan Ekamas. Meski begitu, para siswa tetap percaya diri berdagang sambil mengenakan seragam sekolah. “Kami tidak malu, justru bangga bisa jualan sambil membawa nama Ekamas,” tegas Syela.
Upaya ini menjadi bukti bahwa generasi muda Gunungkidul tak hanya piawai dalam bermusik, tetapi juga memiliki semangat wirausaha dan tanggung jawab sosial yang patut diapresiasi. (cr1)
Editor : Sevtia Eka Novarita