GUNUNGKIDUL - Suasana malam di Padukuhan Piyaman II, Kalurahan Piyaman, Kapanewon Wonosari mendadak gempar.
Seorang warga yang tengah berburu burung puyuh di area ladang justru memergoki sepasang pria dan wanita yang diduga tengah berbuat asusila di tempat terbuka pada Jumat malam (18/7/2025).
Pasangan tersebut diketahui terdiri dari seorang pria berinisial MY (40) yang disebut-sebut sebagai tenaga tata usaha di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Wonosari dan tercatat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Sementara itu, perempuan yang bersamanya diketahui berinisial M, seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di wilayah Kapanewon Playen, Kabupaten Gunungkidul.
Kejadian yang berlangsung sekitar pukul 19.30 WIB itu memicu kehebohan setelah pasangan yang bukan suami istri itu kabur terbirit-birit, hanya mengenakan pakaian dalam.
Sepeda motor milik pelaku ditinggalkan di lokasi, lengkap dengan sejumlah barang bukti yang memperkuat dugaan perbuatan mesum.
Kepala Dusun Piyaman II, Rahmat Widianto, membenarkan insiden tersebut.
Menurutnya, sepeda motor, tisu, tikar, serta tiga bungkus kondom yang satu di antaranya sudah dalam kondisi terpakai ditemukan warga saat memeriksa lokasi kejadian.
Barang-barang itu kemudian diamankan oleh warga sebagai bukti.
“Kecurigaan muncul ketika warga mendapati gerak-gerik mencurigakan di ladang. Saat didekati, satu orang sudah lari, satunya masih mengenakan pakaian. Setelah diperiksa, ditemukan identitas di motor yang ditinggalkan,” terang Rahmat saat dihubungi pada Minggu (20/7).
Kemudian, hasil penelusuran warga menunjukkan bahwa pelaku berinisial MY, laki-laki asal Gading 1, Kalurahan Gading, yang diketahui merupakan tenaga P3K di salah satu SMK negeri di wilayah Wonosari.
Sementara pasangannya, M, adalah seorang ibu rumah tangga yang juga berasal dari Kalurahan Gading, tepatnya di wilayah Gading 2.
Peristiwa itu terjadi di ladang yang berada di perbatasan antara Kalurahan Piyaman dan Kalurahan Logandeng.
Warga yang merasa wilayahnya tercoreng oleh kejadian tersebut kemudian meminta keduanya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
“Ini bukan hanya soal moral, tapi juga ketertiban lingkungan. Apalagi mereka bukan warga sini, tapi mencemari wilayah kami. Maka dari itu kami minta keduanya menyampaikan permintaan maaf langsung kepada warga,” tegas Rahmat.
Setelah identitas keduanya dipastikan, proses mediasi digelar dengan melibatkan kepala dusun dari kedua kalurahan asal pelaku, disaksikan pula oleh tokoh masyarakat.
Dalam mediasi tersebut, kedua pelaku menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan penyesalan atas perbuatannya.
“Atas kesepakatan bersama, masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan tanpa membawa ke ranah hukum. Keduanya dikembalikan ke keluarga masing-masing,” lanjut Rahmat.
Sementara itu, Kapolsek Wonosari, Kompol Edy Purnomo, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa pihaknya telah mendapat informasi soal kejadian tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi yang masuk ke Polsek.
“Sampai sekarang tidak ada laporan ke kantor,” singkatnya saat ditemui.
Meski tidak berlanjut ke jalur hukum, kejadian ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat untuk menjaga etika dan kesusilaan, terlebih saat berada di ruang publik.
Warga Piyaman berharap kejadian serupa tidak terulang di wilayah mereka. (cr1)
Editor : Bahana.