GUNUNGKIDUL - Nelayan di Pantai Sadeng, Kalurahan Songbanyu, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul mengeluhkan kerapnya terjadi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite. Mereka berharap pemerintah membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) khusus di kawasan pelabuhan tersebut.
Ketua Kelompok Nelayan Mina Harja Pantai Sadeng, Sarpan menyebutkan, keberadaan SPBN sangat mendesak untuk kelancaran aktivitas melaut. “Perlu diadakan SPBN di Pantai Sadeng,” kata Sarpan saat ditemui di rumahnya pada Jumat, (11/7).
Saat ini, nelayan Pantai Sadeng mengandalkan 115 kapal jenis jukong PMT berkapasitas satu gross tonnage (GT) untuk melaut. Kapal-kapal tersebut utamanya digunakan untuk menangkap ikan layur yang berada di perairan jauh dari pantai.
Dalam sekali melaut untuk menangkap ikan layur, satu kapal membutuhkan hingga 90 liter pertalite. “Sementara untuk kegiatan melaut harian yang lebih dekat, konsumsi pertalite berkisar 20 liter per kapal,” ungkapnya.
Permasalahan ini muncul karena akses ke SPBU sangat jauh. SPBU terdekat dari Pantai Sadeng berada di Pasar Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah dengan jarak sekitar 24 kilometer.
Sedangkan SPBU di wilayah Gunungkidul yang paling dekat berada di Kapanewon Wonosari, berjarak sekitar 40 kilometer dari pelabuhan. “Kalau pas musim ikan, kebutuhan BBM tinggi. Tapi kadang pasokan pertalite dari sub pengepul telat datang,” ungkap Sarpan.
Keterlambatan tersebut menurut Sarpan bisa sampai tiga hari. Dalam kondisi seperti ini, akhirnya Nelayan membeli pertalite eceran di warung. Saat ini, kata Sarpan, harga pertalite dari sub pengepul berada di kisaran Rp 11.000 per liter. Sementara harga di pengecer bisa mencapai Rp 13.000 per liter. Meski dianggap wajar karena adanya ongkos distribusi.
Nelayan lainnya, Poniman, juga merasakan hal yang sama. Dalam sekali melaut untuk mencari layur, ia bisa menempuh jarak hingga 40 hingga 60 mil laut. Sedangkan untuk tangkapan harian jaraknya hanya 5 sampai 10 mil.
Ia berharap pemerintah segera menghadirkan SPBN di kawasan Pantai Sadeng agar pasokan BBM lebih terjamin. “Ya perlu ada SPBN di Pantai Sadeng ini,” ujarnya singkat sembari mengulur jaring.
Pembangunan SPBN di Pantai Sadeng dinilai akan memberikan dampak signifikan terhadap keberlangsungan aktivitas perikanan dan penguatan ekonomi lokal. Apalagi Pantai Sadeng merupakan pelabuhan penting di kawasan selatan DIJ dengan potensi hasil laut yang besar.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIJ Hery Sulistio Hermawan dalam kegiatan Petik Laut Pantai Sadeng Rabu (9/7) mengungkapkan, Pelabuhan Sadeng merupakan salah satu pelabuhan terbesar di Gunungkidul.
Pantai Sadeng sendiri, menurut Hery telah menghasilkan produksi perikanan tangkap 2023 sejumlah 3.123 ton dan meningkat di 2024 sejumlah 3.181 ton "Maka Sadeng menjadi tulang punggung dalam pemenuhan kebutuhan produk perikanan masyarakat DIJ,” ujarnya. (cr1/pra)
Editor : Heru Pratomo