GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul tengah mengkaji rencana pengoperasian rute Trans Jogja dari Yogyakarta ke Gunungkidul.
Kajian tersebut muncul sebagai respons atas tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor dan meningkatnya angka kunjungan wisata ke wilayah ini.
Kepala Bidang Angkutan dan Terminal Dinas Perhubungan Gunungkidul, Sigit Wijayanto, mengatakan bahwa peningkatan jumlah kendaraan pribadi dan wisatawan tanpa dibarengi perbaikan sistem angkutan umum berisiko menimbulkan persoalan lalu lintas di masa depan.
“Setiap tahun, pertumbuhan kendaraan bermotor cukup signifikan,” ujar Sigit pada Rabu, (9/7/2025).
Berdasarkan hasil kajian tentang angkutan Trans Jogja rute Jogja - Wonosari, diungkapkan, sepeda motor mengalami pertumbuhan mencapai 7,40 persen. Sementara, kendaraan mobil pribadi mencapai 10,01 persen.
"Pertumbuhan terjadi setiap tahunya. Dihitung dari 2021 sampai 2024," sebutnya.
Di sisi lain, kunjungan wisatawan meningkat rata-rata 22 persen per tahun sejak 2021 hingga sekarang.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat kebutuhan akan moda transportasi publik yang terjangkau, efisien, dan dapat diandalkan menjadi semakin mendesak.
Trans Jogja dinilai sebagai salah satu solusi potensial untuk menjawab tantangan ini.
Di tengah layanan angkutan umum yang masih terbatas di wilayah Gunungkidul.
Menurut Sigit, kondisi angkutan umum rute Jogja-Wonosari saat ini masih jauh dari kata ideal.
Saat ini hanya terdapat 15 armada yang beroperasi. Dan sebagian tidak memiliki Kartu Pengawasan (KPS).
"Bahkan, operasional pun tidak terjadwal tetap," ujarnya.
Sehingga, kata Sigit keberangkatan bus antara kota sekarang ini sangat tergantung pada jumlah penumpang dan kondisi lalu lintas.
Kemudian, titik tunggu yang kerap digunakan armada berada di Ketandan, Sumberan Siyono, Sambi Pitu, serta sekitar Kecamatan Piyungan.
Armada biasanya hanya berhenti jika ada penumpang yang menunggu.
“Armada besar bisa ngetem hingga 35 menit, sementara yang kecil hanya berangkat jika sudah terisi. Waktu operasional hanya dari pukul 05.00 sampai 17.00 WIB, dan menjelang sore jumlah armada makin sedikit,” ujar Sigit.
Tak hanya itu, tarif angkutan saat ini juga terbilang tinggi, berkisar Rp 30.000 dari Terminal Giwangan ke Wonosari.
Meski ada layanan seperti Sinar Jaya yang dapat dipesan secara daring dengan tarif Rp26.000, ia menilai layanan tersebut belum mampu mencakup seluruh kebutuhan masyarakat.
Dari hasil analisis tersebut, pihaknya telah melakukan survei terhadap 1.289 warga Gunungkidul.
Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa angkutan umum saat ini belum menjadi pilihan utama masyarakat.
Sebanyak 474 responden mengaku tidak pernah menggunakan angkutan umum Jogja-Wonosari.
Sedangkan 637 responden menyatakan jarang menggunakan, dan hanya 47 orang yang menggunakannya secara rutin.
Meski demikian, potensi pengguna angkutan massal masih terbuka lebar, terutama di kalangan pelajar mencapai 37 persen, mahasiswa sebanyak 23 persen.
Disusul oleh buruh swasta, pekerja lepas, wiraswasta, hingga pegawai negeri.
“Kalau sistemnya lebih terjadwal, terjangkau, dan nyaman, Trans Jogja bisa menjangkau komuter, wisatawan, maupun masyarakat yang melakukan perjalanan sosial,” kata Sigit.
Rencana pembukaan rute Trans Jogja ini dinilai sebagai langkah strategis dalam menghadirkan transportasi publik yang andal bagi masyarakat Gunungkidul.
Selain mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, kehadiran Trans Jogja juga dinilai mampu mendukung sektor pariwisata dan menekan emisi kendaraan.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sedang DPRD dan Pemprov DIY guna mewujudkan layanan ini. (cr1)
Editor : Bahana.