Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kelor dan Ikan, Pangan Lokal Yang Menjadi Andalan BRIN Dalam Menekan Stunting di Gunungkidul

Yusuf Bastiar • Senin, 7 Juli 2025 | 00:10 WIB

Pelatihan Pembuatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bergizi tinggi berbasis pangan lokal untuk balita di Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Kamis
Pelatihan Pembuatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bergizi tinggi berbasis pangan lokal untuk balita di Kalurahan Karangasem, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Kamis
GUNUNGKIDUL - Kasus balita stunting masih menjadi persoalan serius Kabupaten Gunungkidul.

Menyikapi hal ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan pemberdayaan masyarakat berbasis riset dengan inovasi pembuatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal bergizi tinggi.

Program ini menitikberatkan pada pemanfaatan potensi pangan lokal seperti ikan dan daun kelor sebagai upaya konkret menanggulangi stunting.

Periset dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN, Dini Ariani, menjelaskan bahwa pelatihan pembuatan PMT sebelumnya telah berhasil meningkatkan status gizi balita di Kalurahan Kelor dan Wiladeg Kapanewon Karangmojo Gunungkidul.

Intervensi selama tiga bulan, kata Dini, dilakukan melalui PMT lokal ini terbukti mampu menurunkan angka stunting dan anemia.

Melihat dampak baik tersebut, kini Tim PRTPP BRIN melanjutkan program pemberdayaan di Kalurahan Karangasem Kapanewon Paliyan.

“Dengan pendekatan serupa," ujar Dini saat dihubungi pada Minggu, (6/7/2025).

Selamat tiga bulan proses intervensi melalui pelatihan pembuatan PMT di Karangasem, menurut Dini, akan melibatkan para kader kesehatan kalurahan.

Dalam pelatihan tersebut, nantinya para kader akan diajarkan cara memilih bahan pangan, menentukan takaran, serta teknik pengolahan dan penyimpanan makanan agar kandungan gizinya tetap terjaga.

Menurut Dini, pemanfaatan bahan lokal selama ini belum maksimal karena masih banyak ibu-ibu yang belum memahami teknik pengolahan yang tepat.

"Padahal, gizi dalam makanan sangat bergantung pada cara penanganannya," kata dia.

Salah satu fokus utama PMT yang dikembangkan BRIN adalah penggunaan ikan air tawar. Selain mudah didapat di pedesaan, ikan mengandung DHA dan EPA, asam lemak esensial yang penting untuk perkembangan otak dan penglihatan anak.

Dini menekankan bahwa beberapa jenis ikan air tawar bahkan memiliki kandungan gizi yang menyaingi ikan laut.

"Ikan kaya omega-6, kalium, serta lemak tak jenuh yang penting untuk pertumbuhan balita," jelasnya.

Tak kalah penting, daun kelor juga menjadi bahan unggulan dalam pelatihan pembuatan PMT.

Disebut sebagai superfood, kata Dini, kelor mengandung protein tinggi serta berbagai mikronutrien penting seperti kalsium, kalium, vitamin A, vitamin C, dan zat besi.

Selain ikan dan kelor, pelatihan juga memperkenalkan sumber protein nabati seperti tempe, yang kandungan proteinnya setara dengan daging sapi.

Dengan harga yang lebih terjangkau, kata Dini, tempe menjadi solusi tepat untuk pemenuhan gizi keluarga berpenghasilan rendah.

"Kandungan kalsiumnya empat kali lebih tinggi dari susu, vitamin C-nya tujuh kali lipat dari jeruk. Ini potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan," ungkap Dini. (cr1)

Editor : Bahana.
#Gunungkidul #BRIN #Stunting