JOGJA - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispussip) Kabupaten Gunungkidul terus mengintensifkan upaya pelestarian naskah kuno sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal. Tim Pendataan Naskah Kuno menyambangi tiga kalurahan di Kapanewon Girisubo yakni Jerukwudel, Karangawen, dan Songbanyu untuk pendataan langsung terhadap koleksi naskah kuno milik warga.
Ketua Tim Kerja Sosialisasi dan Pendataan Naskah Kuno Pri Hastuti menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari program berkelanjutan yang bertujuan mengidentifikasi dan mendokumentasikan naskah-naskah kuno yang tersimpan di masyarakat.
"Di Kalurahan Jerukwudel kami mendata sebuah naskah unik milik Pak Iduk berupa papan kayu berisi simbol-simbol atau kode yang digunakan untuk menghitung penanggalan Jawa pada masa lalu," terang Pri Hastuti Senin (30/6).
Sementara di Kalurahan Karangawen, ada naskah milik Sutawa dan Tariyo berwujud kitab berhuruf Jawa dan Arab serta catatan pribadi kuno yang telah berusia lebih dari 50 tahun. Di Songbanyu, Tuti bersama timnya bahkan bisa mendokumentasikan mushaf Alquran kuno milik Umar, sesepuh dusun yang diperkirakan berusia ratusan tahun.
Menurutnya, seluruh naskah yang didata akan diusulkan sebagai tambahan koleksi untuk dilestarikan melalui proses alih bahasa dan alih media digital.
Ketua Bidang Perpustakaan Dispussip Gunungkidul Arif Yahya menegaskan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program Inventarisasi Koleksi Nasional yang dicanangkan Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Namun ia menekankan, upaya pelestarian naskah kuno sebenarnya telah menjadi agenda prioritas Pemkab Gunungkidul sejak jauh sebelum program pusat itu digulirkan.
"Pendataan ini bukan program sekali jalan. Kami akan terus bergerak, karena masih banyak naskah kuno yang belum terpetakan. Ini bagian dari komitmen kami untuk menjaga warisan intelektual lokal," ujarnya.
Dengan semangat pelestarian dan keterbukaan akses, Dispussip Gunungkidul berharap naskah-naskah kuno ini tidak hanya menjadi artefak sejarah, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan dan inspirasi lintas generasi.
Masyarakat pun diajak untuk aktif melaporkan keberadaan naskah kuno di lingkungan mereka sebagai bagian dari gerakan bersama menjaga warisan budaya daerah.
"Setelah inventarisasi, arah ke depan adalah alih bahasa dan digitalisasi. Bahkan kami ingin menghidupkan kembali isi naskah kuno ini dalam bentuk pementasan seni seperti ketoprak atau dokumenter agar lebih dekat dengan masyarakat,” tambahnya. (cr1/laz)