Pembenahan Pasar Besole sebagai tempat relokasi juga terus dikebut.
Selama Mei 2025 PKL juga belum mendapatkan kepastian akan nasibnya.
Sehingga, koordinasi lapangan Paguyuban PKL Pawon Sari, Among Prakoso mengaku dirinya terus berupaya mengajak dialog pihak Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.
Sejak April 2025, PKL Pawon Sari akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berdialog dengan pihak pemkab.
Among mengaku PKL sudah dijanjikan bertemu Pemkab Gunungkidul pada Rabu (18/6/2025).
“Belum tahu ketemunya pagi apa sore,” ujar Among saat ditemui di lapak dagangannya Selasa (10/6/2025).
Ia mengungkap upaya untuk bertemu dengan pemkab terus dilakukan.
Bahkan, dia menuturkan jika tidak berhasil berdialog dengan pemerintah kabupaten, PKL akan terlebih dahulu melapor dan berdialog dengan DPRD Gunungkidul.
“Awalnya gitu, kalau gak jelas ya kita akan mengadu ke DPRD,” ujar Among.
Upaya dialog ini dilakukan oleh Pawon Sari sebab tak kunjung ada kejelasan dari pihak pemkab.
Menurut Among, selama ini para PKL tahu akan direlokasi justru dari media sosial. Bukan dari pihak pemerintah kabupaten langsung.
“Kita tidak pernah ketemu pihak pemkab untuk membicarakan relokasi ini,” ujar Among.
Sampai sekarang, puluhan PKL yang terhimpun di Pawon Sari tetap menolak upaya rencana relokasi.
Bahkan, dia mengungkapkan PKL di Alun-alun Wonosari itu akan memperjuangkan nasibnya.
Sebab, Pasar Besole sebagai tempat relokasi PKL Wonosari dinilai sepi pengunjung.
“Bahkan ada suara-suara penolakan dari pedagang di Besole jika kami dipindahkan ke sana. Ya, karena udah sepi, malah mau ditambahi lagi pesaingnya,” ujar Among.
Terkait kebenaran dialog antara PKL Pawon Sari dengan pemkab, reporter Radar Jogja sudah mendatangi Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Gunungkidul Sri Suhartanta di kantornya.
Namun, Sri Suhartanta tidak berada di tempat. Bahkan, ketika Radar Jogja mencoba menghubunginya lewat pesan WhatsApp, sampai sekarang Sri Suhartanta belum ada jawaban sama sekali.
Editor : Bahana.