Yakni mengganti plastik dengan daun jati.
Sudah dua tahun warga Dusun Pakel meninggalkan plastik untuk wadah daging kurban.
Selain ramah lingkungan, panitia kurban, Utami Setyaningsih menyebut penggunaan daun jati merupakan bentuk merawat kearifan lokal.
“Di sini banyak daun jati, kenapa harus beli plastik,” ujar Utami Jumat, (6/6/2025).
Selain mengurangi penggunaan plastik, cara ini juga membawa nuansa alami dan tradisional yang sarat nilai budaya.
Meski baru berjalan dua tahun, Utami menegaskan bahwa ke depan warga Pakel akan terus memanfaat kearifan lokal yang ada di dusunnya.
Dikatakan penggunaan daun jati sebagai pembungkus daging, lebih hemat biaya daripada plastik.
“Warga ambil daun jati di gunung-gunung,” ujar Utami.
Apalagi warga Pakel sudah terbiasa menggunakan daun jati sebagai pembungkus makanan.
Ini menjadi hal baru dan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari warga.
Meski demikian, menurutnya penggunaan daun jati hanya bisa dilakukan ketika pemotongan hewn kurban berlangsung saat musim penghujan.
Sebab, jika bertepatan dengan musim kemarau pohon jati tidak berdaun.
Sebagai solusi, menurut Utami kedepan warga Pakel akan menggunakan besek ketika Idul Kurban berlangsung saat musim kemarau.
“Musim kemarau daun pohon jati pada rontok,” ujar Utami.
Utami menjelaskan dalam proses pengemasan daging menggunakan daun jati membutuhkan tempat yang luas.
Meski demikian, hal tersebut itu tidak menjadi persoalan. Apalagi menggunakan daun jati proses pembungkusan berjalan lebih cepat.
“Warga di sini lihai dalam membungkus daging pakai daun,” ujarnya. (cr1)
Editor : Bahana.