GUNUNGKIDUL - Kalangan anak muda Gunungkidul membuat inisiatif komunitas Cukur Gunungkidul alias cukur gundul.
Ini bukanlah wadah komunitas pangkas rambut, melainkan inisiasi anak muda dalam merespons perkembangan teknologi terkini seperti Artificial Intelligence (AI).
Pendiri Cukur Gundul Rully Yohanes Punu mengatakan, inisiasi ini atas dasar perdebatan dampak negatif dan positif terkait penggunaan AI di tengah era teknologi yang berkembang. Untuk merespon hal tersebut mereka melakukan tindakan nyata.
Yakni dengan pendirian komunitas berbasis pendekatan AI, melakukan aksi pelatihan, dan mengelola kegiatan untuk orang muda.
“Pengembangan SDM berbasis teknologi yang edukatif, kreatif, dan hiburan,” ujar Rully Rabu (21/5/2025).
Lulusan Sarjana Informatika tersebut menggaet orang muda Gunungkidul untuk bersama-sama menyusun pelatihan dan even terbaik yang mendorong kemajuan komunitas lokal di Bumi Handayani.
Baca Juga: Setelah Menunggu 14 Tahun, 271 Calon Jemaah Haji asal Gunungkidul Diberangkatkan ke Tanah Suci Besok
Sejauh ini, Cukur Gundul berfokus pada pelatihan digital marketing dan pengembangan mendset berbasis AI.
Dua fokus ini dilakukan guna meningkatkan literasi digital dan kesiapan masa depan pemuda.
Pemahaman teknologi terkini, bagi Rully adalah bagian penting dari revolusi industri 4.0.
Terkait kesiapan kerja masa depan, Cukur Gundul yakin nantinya banyak pekerjaan yang membutuhkan pemahaman dasar tentang AI atau kemampuan bekerja bersama dengan mengandalkan teknologi berbasis AI.
“Pelajar yang mengenal AI sejak dini akan lebih siap menghadapi perkembangan zaman,” tuturnya.
Dalam menumbuhkan pola pikir inovatif dan kreatif Cukur Gundul memetakan masalah mindset pada pelajar.
Baca Juga: Datangi Pabrik, Pegawai PT. Mataram Tunggal Garment Berdoa Bersama untuk Rumah Kedua Mereka
Sebab, pelajar yang menggunakan AI sebagai media belajar akan dituntut berpikir logis, analitis, dan kreatif dalam memecahkan masalah.
Tak hanya itu, inisiatif ini juga berupaya menciptakan solusi lokal. Masyarakat Gunungkidul bisa mengembangkan ide-ide berbasis AI untuk menyelesaikan masalah di sekitar mereka, misalnya dalam pertanian, pariwisata, UMKM, atau pendidikan.
“Peluang kerja jarak jauh, dengan skill digital seperti AI, siswa tidak perlu pindah ke kota besar untuk mendapat pekerjaan bergaji baik,” ungkap Rully.
Baca Juga: Pabrik PT Mataram Tunggal Garment di Ngaglik, Sleman Terbakar Tiga Kontainer Garmen Gagal Diekspor
Kemudian, Cukur Gundul juga mengarah penggunaan AI untuk membuka usaha digital.
Sebab, mereka bisa membuat layanan atau aplikasi. Ditambah pemberdayaan daerah tertinggal dengan mengajarkan AI pada pelajar di daerah seperti Gunungkidul dapat membantu memperkecil kesenjangan dengan daerah urban.
Selain itu juga bisa meningkatkan daya saing lokal. Tak hanya itu, keterkaitan itu semua bagi Rully dapat meningkatkan rasa percaya diri dan daya saing global.
Sehingga orang muda Gunungkidul bisa mengikuti lomba, bootcamp, atau program AI dari luar negeri secara daring.
“Anak-anak muda bisa menjadi agen perubahan di daerahnya dengan membawa teknologi ke dalam pertanian, wisata, atau pelayanan publik,” ungkapnya. (cr1/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita