Humas PDAM Tirta Handayani, Rachmat mengungkapkan sejak Januari hingga Mei 2025, Tirta Handayani sudah menangani pengaduan pelanggan dengan total 2.890 titik kerusakan.
Dari ribuan kebocoran tersebut, sudah termasuk kerusakan pipa kecil dan pipa besar.
Sejauh ini, penanggulangan kerusakan pipa direspon dengan evaluasi suplai aliran di wilayah terjadi kebocoran.
“Di Wonosari sendiri pipanya saling interkoneksi, bisa saja air saling berbenturan,” ujar Rachmat Senin (19/2025).
Di wilayah Wonosari, permasalahan utama adalah tingginya angka kebocoran pada pipa berdiameter besar.
Untuk itu, diperlukan pengecekan menyeluruh terhadap tekanan air dan evaluasi sistem distribusi agar kebocoran serupa tidak terus berulang.
Sementara itu, permasalahan yang lebih krusial terjadi di wilayah Cabang Bribin.
Beberapa hari yang lalu, pompa berdaya 75 kW yang berada di intake Sungai Bawah Tanah Bribin mengalami kerusakan.
Hasil pemeriksaan teknis menunjukkan bahwa kerusakan tersebut diduga kuat disebabkan oleh fluktuasi tegangan listrik PLN, yang menyebabkan pompa mengalami short body dan mengakibatkan kerusakan pada elektromotor.
PDAM Tirta Handayani telah melakukan beberapa upaya perbaikan, termasuk penggantian kabel panel dan perbaikan elektromotor.
Namun, hasilnya belum optimal. Oleh karena itu, dalam rapat tersebut, Direktur Teknik PDAM memutuskan untuk melakukan penggantian total pompa di Bribin.
"Langkah ini kami ambil agar pelayanan kepada pelanggan dapat segera kembali normal dan tidak berdampak lebih lama," jelas Direktur Teknik PDAM Tirta Handayani Imam Prakosa.
Pemasangan pompa pengganti dijadwalkan dilaksanakan pada pekan ini.
Sebelum itu, tim teknis PDAM akan melakukan persiapan berupa redesain dan perbaikan pada beberapa jaringan pipa di dalam Goa Bribin untuk mendukung instalasi pompa yang baru.
Dengan adanya langkah strategis ini, PDAM Tirta Handayani berharap distribusi air bersih ke pelanggan di wilayah Bribin dan sekitarnya dapat kembali stabil dalam waktu dekat.
Editor : Bahana.