GUNUNGKIDUL - Menjelang Idul Adha 2025, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul mencatat sebanyak 27 kasus antraks yang menyerang hewan ternak sejak pertengahan April hingga Minggu (18/5/2025).
Dari jumlah tersebut, dua ekor sapi dilaporkan mati, sementara 25 lainnya tengah menjalani masa karantina selama 60 hari sebagai langkah pengendalian penyebaran penyakit.
Kepala DPKH Gunungkidul Wibawanti Wulandari membenarkan temuan tersebut.
Ia mengimbau masyarakat yang hendak membeli hewan kurban untuk memastikan hewan dilengkapi surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) untuk mencegah temuan kasus yang sama.
“Saya menyarankan kepada (pembeli ternak) yang mau berkurban, membeli hewan kurban sebaiknya diperiksa kesehatan hewannya dengan meminta SKKH pada peternak atau penjual,” ujar Wulandari, Minggu (18/5/2025).
Wulandari menjelaskan, SKKH merupakan dokumen resmi yang menyatakan bahwa hewan bebas dari penyakit menular, termasuk antraks.
SKKH digunakan untuk berbagai keperluan, seperti membawa ternak ke luar daerah atau untuk keperluan lain yang mengharuskan bukti kesehatan hewan.
Di Gunungkidul, peternak dapat mengakses layanan SKKH melalui UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang tersebar di tiap kapanewon, atau langsung melalui kantor DPKH kabupaten.
“Juga bisa di dinas peternakan kabupaten, silakan menghubungi agar nanti diperiksa dalam rangka menjamin kesehatan hewan,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Sayuran di Bantul Mulai Naik Jelang Idul Adha, Ternyata Ini Faktor Penyebabnya
Langkah ini, menurutnya, penting tidak hanya untuk melindungi konsumen, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab takmir masjid, panitia kurban, dan shohibul kurban.
“Kita pastikan kalau sudah dilakukan vaksin, dan ada surat keterangan kesehatan hewan dari dokter setempat,” ujar Wulandari.
Selain itu, untuk menekan penyebaran antraks, DPKH Gunungkidul telah melakukan berbagai langkah mitigasi di zona merah, yakni Kapanewon Rongkop dan Girisubo.
Langkah tersebut meliputi vaksinasi dan pemberian antibiotik pada hewan. Serta penyemprotan formalin pada tanah kandang guna membunuh spora antraks yang mungkin tertinggal.
“Kalau menjelang Idul Adha kita relatif aman untuk hewan kurban, karena kan sudah divaksin,” tutur Wulandari.
Seorang peternak sapi rumahan di Girisuko, Kapanewon Panggang Wanto menuturkan, tidak ditemukan wilayah antraks pada hewan ternak di wilayahnya baik sapi maupun kambing.
Hal ini bisa terkendali karena rutin dilakukan penyuluhan oleh DPKH Gunungkidul.
“Alhamdulillah di sini tidak ada virus antraks,” ungkapnya.
Wanto mengaku selama ini dinas terkait selalu merawat kesadaran peternak rumahan untuk melakukan vaksinasi hewan.
Tak hanya itu, peternak rumahan di Girisuko, Kapanewon Panggang selalu menjaga kebersihan kandang hewan.
"Vaksinasi sama kebersihan kandang selalu kami jaga," tambahnya. (cr1/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita