Hal itu diungkapkan oleh Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih, saat melakukan peninjauan bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY di Pasar Argosari, Wonosari, Gunungkidul, Rabu (12/3).
Menurutnya, fenomena ini bukanlah hal baru dan terjadi hampir di seluruh Indonesia.
Pasar tradisional yang dahulu menjadi pilihan utama masyarakat kini mulai tergerus oleh maraknya platform e-commerce dan perdagangan daring, yang memudahkan pedagang untuk menawarkan produk mereka tanpa harus memiliki tempat fisik.
"Bisnis online terutama di sektor pakaian dan kebutuhan lainnya memang menjadi ancaman besar bagi pasar tradisional. Produk-produk ini bisa dipasarkan melalui upload foto atau video, memungkinkan pembeli untuk melakukan transaksi tanpa harus datang langsung ke pasar," kata Endah kepada awak media.
Tidak hanya di sektor pakaian, pedagang daging ayam juga merasakan dampak serupa.
Menurut Endah, banyak kios yang kosong karena pedagang memilih untuk melayani pelanggan melalui sistem pengantaran langsung ke rumah.
"Kami melihat banyak kios kosong di pasar, terutama yang menjual daging ayam. Pedagang memilih keluar dari kios dan menawarkan layanan pengantaran langsung, yang terbukti lebih diminati pelanggan," tambahnya.
Endah menegaskan pentingnya pemutakhiran fasilitas pasar dan pengenalan teknologi kepada pedagang pasar tradisional.
"Kami berencana untuk memberikan pelatihan kepada pedagang, agar mereka dapat memanfaatkan platform online untuk menjual produk mereka. Dengan begitu, mereka tidak hanya mengandalkan penjualan langsung, tetapi juga dapat memperluas jangkauan pasar mereka," ungkapnya.
"Saat ini banyak pedagang yang merasa kesulitan, terutama karena barang yang dijual di pasar tidak selalu sesuai dengan apa yang ada di TikTok atau platform online lainnya. Barang yang terbaru seringkali sudah dipasarkan secara online sebelum bisa ditemukan di pasar tradisional," tambahnya.
Namun demikian, pasar tradisional masih memiliki keunggulan, yakni melayani segmen pasar yang tidak dapat dijangkau oleh media sosial atau aplikasi online, seperti petani atau kelompok masyarakat marjinal yang lebih memilih berbelanja langsung di pasar.
"Mereka ini punya pasar tersendiri. Kami tidak bisa mengabaikan mereka, karena mereka adalah bagian penting dari ekonomi lokal," kata Endah.
Endah juga menyampaikan perkembangan terkait harga dan ketersediaan bahan pokok menjelang Lebaran.
Menurutnya, harga bahan pokok di pasar Gunungkidul relatif stabil meskipun ada beberapa komoditas yang mengalami fluktuasi.
"Harga cabe, misalnya, sempat turun signifikan dari Rp80.000 per kilogram menjadi Rp50.000. Beberapa barang lain, seperti bumbu dapur dan sayuran, juga terpantau stabil," ungkap Endah.
Meski begitu, mantan Ketua DPRD Gunungkidul itu mengakui adanya fenomena kenaikan harga yang sering terjadi menjelang Lebaran.
"Memang ada kecenderungan harga naik setelah Lebaran, karena permintaan yang meningkat. Namun, pemerintah berusaha mengantisipasi ini dengan melakukan operasi pasar dan pasar murah untuk menjaga kestabilan harga," jelasnya.
Di sisi lain, Kepala Bagian Rekayasa Perekonomian Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setprov DIY Eling Priswanto juga memberikan informasi terkait dengan kondisi harga bahan pokok yang dipantau oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi DIY.
Harga bahan pokok seperti bawang merah dan cabe menjadi perhatian khusus karena fluktuasi harganya yang cukup tajam.
"Seiring dengan mendekatnya Lebaran, permintaan terhadap bahan-bahan ini meningkat, sehingga mempengaruhi harga. Namun, untuk bahan pokok utama seperti beras, kami telah melakukan koordinasi dengan berbagai kabupaten, termasuk Sleman dan Kulon Progo, dan memastikan pasokan beras aman," ujar Eling.
Menurutnya, harga cabe yang sebelumnya sempat melonjak tinggi kini telah turun menjadi Rp60.000-Rp75.000 per kilogram, yang menunjukkan adanya kestabilan harga di pasar.
"Dengan koordinasi yang baik, kami yakin pasokan bahan pokok akan tetap terjaga dan harga dapat terkendali. Ini adalah langkah konkret untuk menghadapi lonjakan harga yang sering terjadi menjelang Lebaran," katanya. (ndi)
Editor : Bahana.