GUNUNGKIDUL - Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul melaporkan komoditas pertanian tengah panen raya. Setidaknya, 36.257 hektar lahan tanaman padi telah panen dari Januari hingga Februari 2025. Panen akan berlangsung hingga awal Maret 2025 mendatang.
Sekretaris DPP Gunungkidul Raharjo Yuwono menyebutkan, panen terbanyak ialah di Kapanewon Ponjong seluas 4.330 hektar, kemudian Saptosari 3.995 hektar, Tepus 3.148 hektar dan Wonosari 2.993 hektar. "Gunungkidul saat ini sedang panen raya terdiri dari tanaman Padi, dari 45.921 hektar, luasan lahan yang telah panen 36.527 hektar," ujar Raharjo kepada awak media, Selasa (25/2).
Raharjo mengatakan, tanaman jagung sendiri di semua wilayah telah panen dengan luasan 46.613 hektar. Terluas yakni di Saptosari yakni 5.162 hektar.
Dengan hasil panen yang melimpah, dapat dipastikan ketahanan pangan di Gunungkidul sangat baik pada Tahun 2025. Raharjo menuturkan, luasan tanaman padi yang akan memasuki masa panen seluas 10.664 hektar. Kemungkinan panen akan terus berlangsung hingga awal Maret 2025, capaian ini sangat bagus untuk para petani di Gunungkidul," jelasnya.
Bulog tengah melakukan serap gabag dfu beberapa lokasi di Gunungkidul. Harga per-kilogramnya Rp 6.500 per-kilogram. "Kami pastikan harga serapan gabah terjual sesuai dengan HET," tegasnya.
Dalam mendukung percepatan tanam padi di Gunungkidul, Kementerian Pertanian RI juga menyalurkan 61,8 ton benih padi dan 19 ton benih jagung. DPP Gunungkidul tengah mengawal proses pendistribusian bantuan tersebut agar dapat tepat sasaran.
"Bantuan tersebut menyasar 2.472 hektar lahan pertanian untuk 10 kapanewon di Gunungkidul," jelasnya. "Per-hektarnya akan mendapatkan 25 kilogram benih padi dan jagung, diharapkan dapat menunjang sektor pertanian dan kesejahteraan para petani.” (ndi/pra)
Editor : Heru Pratomo