GUNUNGKIDUL - Bupati Gunungkidul Sunaryanta menekankan pentingnya proses seleksi pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) yang terbuka, inklusif, dan transparan. Oleh karena itu, seleksi bisa diikuti oleh siapa saja. Termasuk penyandang disabilitas.
"Kalau bisa merekrut peserta dari kalangan disabilitas, ini akan menjadi bentuk penghargaan negara yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia,” sebutnya Jumat (7/2/2025).
Menurutnya, hal itu menunjukkan keinginannya untuk memberikan kesempatan yang sama kepada semua lapisan masyarakat. Terlebih, di Gunungkidul ada sekitar 7.000 penyandang disabilitas. Mereka pun disebut belum pernah mewakili dalam Paskibraka.
Dia pun berharap, agar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Gunungkidul melakukan seleksi yang adil dan transparan. “Proses seleksi harus melibatkan rekam jejak peserta yang jelas, agar kita dapat menemukan calon yang benar-benar berkualitas,” tambahnya.
Kepala Badan Kesbangpol Gunungkidul Johan Eko Sudarto mengungkapkan, sosialisasi seleksi paskibraka diikuti oleh 82 sekolah. Meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya diikuti 33 sekolah.
“Kami berharap akan lebih banyak siswa yang memiliki kesempatan untuk menjadi Paskibraka dan mengharumkan nama Gunungkidul, baik di tingkat provinsi maupun nasional,” sebutnya.
Johan juga menekankan, program Paskibraka bukan hanya tentang pengibaran bendera. Tetapi juga merupakan bagian dari kaderisasi calon pemimpin bangsa yang berkarakter Pancasila. Oleh karena itu, sosialisasi tersebut sangat penting untuk memastikan semua peserta memahami tahapan seleksi dan persyaratan yang harus dipenuhi. (ndi/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita