GUNUNGKIDUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan keselamatan terhadap bencana hidremeteorologi. Sebab, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan terjadi pada 1-10 Februari 2025.
Setidaknya, 200 paket logistik berupa alat kerja bakti dan sembako siap didistribusikan jika bencana hidremeteorologi menimbulkan kerugian materil bagi masyarakat Gunungkidul. Angin kencang, pohon tumbang, banjir dan tanah longsor berpotensi terjadi di beberapa wilayah.
Baca Juga: Bundaran Planjan Gunungkidul Mendadak Jadi Objek Wisata, Ramai Dikunjungi Masyarakat
Kepala BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, sekitar 60 paket logistik yang telah didistribusikan kepada warga terdampak bencana hidremeteorologi. Peristiwa pohon tumbang akibat tersambar petir dan diterjang angin kencang rata-rata terjadi di zona utara Gunungkidul.
"Paket logistik kami distribusikan di Kapanewon Nglipar, Gedangsafi Semin, Patuk, dan Ngawen. Wilayah-wilayah itu merupakan area rawan bencana," ujar Pruwono kepada awak media, Minggu (2/2/2025).
Baca Juga: Berkah Punya PCX, 500 Bikers Honda Ditemui Pebalap MotoGP
Status siaga darurat bencana juga telah ditetapkan sampai 31 Maret 2025. Masyarakat yang bermukim di sekitaran bantaran sungai diminta untuk mewaspadai bencana banjir. Sebab, hujan yang berkepanjangan dapat memicu luapan air sungai.
"Selain itu, penebangan pohon, membersihkan saluran drainase hingga segera menjauhi area-area rawan longsor," jelasnya.
Baca Juga: Peneliti Pustral UGM Sebut Tol Nyambung Jogja Bakal Menambah Kemacetan saat Liburan
Sementara itu, Pemkab Gunungkidul juga telah mengukuhkan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Pengukuhan dilakukan langsung oleh Bupati Gunungkidul Sunaryanta.
FPRB dibentuk untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana. Selain itu, FPRB juga memiliki beberapa tujuan. Di antaranya untuk memastikan pembangunan daerah yang berbasis pengurangan risiko bencana. Memastikan kelembagaan penanggulangan bencana dapat bersinergi dengan baik. Meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan mengurangi risiko bencana baru.
"Dibentuknya forum seperti ini agar setiap daerah siap dalam menghadapi kebencaan seperti hidrometeorologi, kekeringan, ini semua sebagai upaya untuk meminimalisir," lanjutnya.
Baca Juga: Dream Team Astra Honda Siap Lanjutkan Dominasi di Asia, Bibit Unggul Dibina ke Eropa
Pihaknya berharap, dalam menghadapi ancaman kebencanaan untuk tidak berjalan sendiri. Namun juga berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai stakeholder. Serta melibatkan masyarakat bersama-sama meminimalisasi dampak yang diakibatkan dari sebuah bencana.
"BPBD juga menyiapkan salah satunya Damkar, sarana prasarana lainnya ini merupakan bentuk kesiapan dan adaptasi dalam sebuah perkembangan zaman dan teknologi dalam menghadapi kebencaan," tandasnya. (ndi)
Editor : Sevtia Eka Novarita