GUNUNGKIDUL - Kenaikan harga jual Gabah Kering Giling (GKG) atau padi menjadi Rp 6.500 per-kilogram dianggap masih terlalu murah oleh sejumlah petani di Gunungkidul.
Hal itu dikeluhkan oleh seorang Petani Kalurahan Karangrejek, Kapanewon Wonosati, Gunungkidul Martono saat ditemui Radar Jogja di lahan pertaniannya, Kamis (30/1).
"Yah harga Rp 6.500 masih murah buat kami, lebih baik kami olah sendiri menjadi beras terus jual ke pasar, lebih banyak dapatnya," ujar Martono.
Dia mengatakan, harga tersebut tidak mencukupi untuk menunjang kebutuhan hidup mereka, mengingat kondisi pertanian di wilayahnya yang hanya dapat melakukan panen padi sekali dalam setahun.
"Kalau di daerah lain mungkin bisa panen tiga kali dalam setahun, di sini kami hanya bisa panen sekali. Jadi, harga Rp 6.500 sangat kurang," ucapnya.
Martono mengelola lahan seluas 3.000 meter persegi atau seperempat hektar. Ia menjelaskan, saat musim penghujan, mereka menanam padi, sedangkan di musim kemarau, mereka beralih ke tanaman palawija seperti kacang dan kedelai, serta sayuran hortikultura.
Ia menambahkan, faktor-faktor seperti kelangkaan pupuk dan keterbatasan akses terhadap bantuan pertanian juga semakin memperburuk keadaan.
"Kalau kami jual dalam bentuk padi, harganya jauh lebih rendah. Lebih baik kami olah sendiri menjadi beras dan menjualnya langsung," tuturnya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Heri Nugrohob menanggapi keluhan tersebut dengan serius. Ia mengingatkan, pentingnya peran Bulog dalam menjaga harga beli gabah dan padi sesuai ketentuan pemerintah.
"Menko Pangan sudah menjelaskan bahwa harga panen gabah ditetapkan di Rp 6.500 dan padi di Rp 5.500. Kami berharap Bulog siap membeli hasil panen petani sesuai harga tersebut," ujar Heri.
"Gunungkidul sebentar lagi akan panen gabah dan jagung, dan kami ingin memastikan petani mendapatkan keuntungan yang layak," tandasnya. (ndi)