Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belajar dari Fenomena El Nino 2024, Gunungkidul Mitigasi Dampak melalui Irigasi Perpompaan

Andi May • Sabtu, 18 Januari 2025 | 02:43 WIB

 

 

Panen raya yang dilakukan petani bersama TNI dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul di Kapanrwon Ngawen.
Panen raya yang dilakukan petani bersama TNI dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul di Kapanrwon Ngawen.

 

GUNUNGKIDUL –Pemkab Gunungkidul mengklaim keberhasilan menghadapi dampak perubahan iklim yang disebabkan oleh fenomena El Nino 2024 lalu. Dengan membangun sistem irigasi perpompaan, pemerintah berhasil mencukupi kebutuhan air para petani padi, yang merupakan komoditas utama.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul Raharo Yuwono menyebutkan, irigasi perpompaan yang dibangun di Gunungkidul terdiri dari dua jenis, yaitu irigasi permukaan di sepanjang Sungai Oya dan irigasi dalam tanah yang diterapkan di Poktan Ngudi Makmur, Tobong Sambirejo, Kapanewon Ngawen. "Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan akses air irigasi bagi para petani, terutama di saat cuaca ekstrem yang disebabkan oleh el nino," ujar Raharjo kepada awak media, Jumat (16/1). 

Pembangunan ini mencakup instalasi pompa, pipa distribusi, bak air, rumah pompa, dan panel listrik. Harapannya, dengan adanya irigasi perpompaan ini, indeks pertanaman padi di kawasan MH1, MH2, dan MK dapat meningkat secara signifikan. "Hasil panen menjadi bukti keberhasilan irigasi perpompaan, yang baru diujicobakan di area seluas satu hektar," ucapnya.

Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur Mutsyo mengataka ndengan memanfaatkan sistem irigasi perpompaan,  hasil ubinan padi varietas Inpari 42 mencapai 8,5 kg per ubin, dengan rata-rata hasil ubinan mencapai 6,55 kg. Jika dihitung dalam Gabah Kering Panen (GKP), produktivitas padi di lahan tersebut mencapai 8,4 ton per hektar. "Bagi kami cukup menggembirakan, mengingat harga eceran tertinggi (HET) gabah GKP saat ini mencapai Rp 6.500 per kg," ujar Mursiyo.

Mursiyo menambahkan, penanaman padi dilakukan pada 27 hingga 30 September 2024 lalu, saat curah hujan masih rendah. kelompok tani lain, seperti Poktan Rejeki Makmur dan Sambeng 5, yang juga menanam padi pada waktu bersamaan, kini mulai panen dengan hasil yang memuaskan. “Keberhasilan ini memberikan semangat bagi kami untuk memperluas area tanam padi pada musim berikutnya,” ucapnya.

Ketua Tim Prasarana dan Sarana Pertanian Tanaman Pangan DPP Gunungkidul Yatimah menjelaskan, pada Tahun 2024 kemarin, Kementerian Pertanian telah membangun irigasi perpompaan di 39 titik di Gunungkidul.  "Dengan berbagai inovasi dan dukungan dari pemerintah, diharapkan ketahanan pangan di Gunungkidul akan semakin kuat, meskipun tantangan yang dihadapi akibat perubahan iklim terus mengancam," ujar Yatimah. (ndi/pra)

Editor : Heru Pratomo
#rumah pompa #el nino #pemkab #Gunungkidul #padi #irigasi perpompaan #mitigasi dampak #Petani #pangan