GUNUNGKIDUL - Berawal dari kisah perjuangan warga setempat yang kesulitan akses, Kedungwanglu, Banyusoco, Playen, Gunungkidul kini mempunyai jembatan baru.Kini jembatan yang kokoh berdiri itu mempermudah akses mereka.
“Ada cerita seorang guru yang harus menggendong hingga sepuluh anak untuk menyeberangi sungai saat banjir. Kini, kisah penuh perjuangan itu menjadi sejarah,” ujar Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY dalam acara Rembag Kaistimewan, Kamis (16/1).
Jembatan baru tersebut selesai dibangun pada 30 Desember 2024 melalui dana keistimewaan (Danais). Di daerah itu terkenal sering terjadi banjir dari luapan Sungai Oyo. Bahkan warga desa sekitar terisolasi karena akses jalan tertutup, terlebih saat musim hujan. "Warga yang akan bersekolah, bekerja hingga menjual hasil panen jadi kesulitan," tuturnya.
Baca Juga: Integrasikan Sistem Digital di SMPN 10 Jogja, Para Guru Pantau Progress Siswa lewat Skema Online
Danais yang dikeluarkan untuk pembangunan jembatan sebesar Rp 7 miliar. Pembangunan tersebut merupakan bukti perubahan bisa digapai dengan kolaborasi antara masyarakat dengan pemerintah. "Semoga moda transportasi jadi lancar, kegiatan perekonomian masyarakat juga berkembang," jelasnya.
Ia juga mengapresiasi kepada warga yang bahkan mau menghibahkan lahannya untuk proyek pembangunan jembatan. Di situ ia melihat gotong royong warga dari aspek material dan tenaga di daerah tersebut sangat erat. “Dana keistimewaan bukan hanya untuk pembangunan fisik, tetapi juga untuk memperkuat budaya kebersamaan dan solidaritas masyarakat,” tegasnya.
Kepala DPUPESDM DIY Anna Rina Herbranti menambahkan proses pembangunan jembatan relatif cepat. Pembangunan dimulai 17 September dan selesai 30 Desember 2024. Kurang dari empat bulan. "Awalnya dari kalurahan mengirimkan proposal ke kami, lalu instruksi gubernur untuk menindaklanjuti," ujarnya.
Baca Juga: Alami Hambatan Pengajuan Jadi Profesor, Dosen UGM Mengadu ke LBH Jogja, Tuding Kampus Bertindak Diskriminatif
Setelah melakukan survei dan analisis curah hujan, di lokasi tersebut sebenarnya sudah ada jembatan sederhana dengan panjang sekitar 40 meter. Namun, jembatan tersebut kerap kali terendam banjir saat musim hujan. "Maka diputuskan untuk membangun jembatan baru dengan desain yang lebih aman," tururnya.
Dalam penyusunan perencanaan, pihaknya mengalami kendala berupa kekurangan lahan untuk pembangunan jembatan. Lahan yang masih dibutuhkan diperkirakan sekitar 500 meter persegi. "Lalu ada empat warga sekitar yang mau merelakan menghibahkan lahannya untuk dipergunakan membangun jembatan," jelasnya.
Lurah Banyusoco Daman Huri menceritakan jembatan tersebut merupakan mimpi dari masyarakat yang akhirnya bisa terwujud. Kenangan semasa kecilnya kaitanya dengan sulitnya mengakses jalan kini hanya menjadi kenangan. Jembatan tersebut menjadi harapan baru warga menuju kemajuan di daerah sekitar. “Banyak cerita sedih, seperti warga yang terjebak banjir saat akan melahirkan atau pulang kerja. Kini, semua itu menjadi kenangan yang tak lagi membayangi kami,” ujarnya. (*/oso/pra)