Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Jual Sapi Tinggal Rp 7 Juta gegara Terimbas PMK, Peternak Juga Terbebani Biaya Perawatan

Andi May • Senin, 6 Januari 2025 | 05:50 WIB
DIPERIKSA: Petugas kesehatan hewan saat melakukan pemeriksaan terhadap sapi yang bergejala di Kalurahan Pampang, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul.
DIPERIKSA: Petugas kesehatan hewan saat melakukan pemeriksaan terhadap sapi yang bergejala di Kalurahan Pampang, Kapanewon Paliyan, Gunungkidul.

 

GUNUNGKIDUL - Setidaknya, sekitar 415 kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang hewan ternak di Gunungkidul. Puluhan ekor sapi juga dilaporkan mati akibat wabah tersebut. Merebaknya wabah PMK itu berdampak pada harga jual sapi di pasaran. Apalagi, anjloknya membuat harga per-ekor turun di angka 50 persen dari hari biasanya.

Salah seorang peternak Kalurahan Pampang  Kismaya Wibowo mengakui, adanya penurunan harga sapi setelah merebaknya wabah PMK. Harga yang dipatok biasanya Rp 14 juta per-ekor menjadi Rp 7 juta per-ekornya.  "Kalau sapi mengalami gejala PMK sudah pasti harganya ikut turun, bisa sampai 50 persen dari harga normal," ujar Kismaya kepada awak media, Minggu (5/1).

Kismaya menceritakan, awalnya sapi-sapinya dalam kondisi sehat. Namun, seiring waktu, gejala seperti penurunan nafsu makan, pincang, dan keluarnya liur mulai muncul di beberapa sapi. Kondisi ini kemudian menyebar dengan cepat ke hewan-hewan lainnya. Ia bahkan harus merawat sapi yang sakit secara intensif hingga setiap dua jam memantau kondisi mereka untuk mencegah kematian lebih lanjut.

Ia menambahkan, dampak ekonomi yang dirasakan sangat berat. Biaya perawatan sapi, mulai dari pakan khusus hingga obat-obatan, menguras keuangan para peternak. Biaya konsultasi ke dokter hewan juga tidak murah, berkisar Rp 80 ribu  hingga Rp100 ribu. Sementara itu, kehilangan sapi akibat kematian menjadi kerugian besar yang sulit tertutupi. "Saya merasa sangat terbebani dengan kondisi ini. Biasanya sapi kami sehat-sehat saja, tapi sekarang banyak yang sakit dan beberapa sudah mati," ucapnya.

Dia berharap, pemerintah bisa memberikan bantuan, terutama ganti rugi bagi sapi yang mati. Selain itu, ada solusi jangka panjang untuk mengatasi wabah PMK tersebut.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengatakan, berdasarkan pantauan harga yang dilakuka pasca merebaknya wabah PMK, penurunan harga jual sapi terdapat pada Pasar Hewan Siyono dan Munggi.  "Aktivitas di kedua lokasi tersebut mulai menurun imbas wabah PMK, penurunan harga sudah terjadi beberapa hari terakhir," ujar Kelik.

Kelik meyebutkan, pada hari biasanya ketersediaan sapi di pasar-pasar hewan mencapai 400 ekor. Akan tetapi, karena wabah PMK jumlah ketersediaan sapi hanya sekitar 200 ekor. Hal itu lantaran banyaknya peternak yang enggan membawa sapinya ke pasar karena takut tertular PMK.

Tidak hanya peternak, konsumen juga mulai khawatir terhadap sapi-sapi yang berada di Gunungkidul. Banyaknya sapi yang bergejalan mengganggu aktivitas jual beli hewan ternak di pasar-pasar hewan. "Setiap hewan ternak yang akan masuk ke pasar, kami telah sediakan kolam  dan semprot cairan disinfektan agar tidak tertular PMK," jelasnya. (ndi/pra)

Editor : Heru Pratomo
#penyakit mulut kuku #Paliyan #Gunungkidul #harga jual #PMK #sapi #pampang