Pasalnya, badan jalan yang ambles terus mengalami penurunan hingga lebih dari satu meter mengancam dua rumah yang di sekitar lokasi.
Panewu Gedangsari Eko Kridiyanto mengakui, hingga kini belum adanya penanganan terhadap kondisi tersebut.
Padahal, pergerakan tanah terjadi setiap hari dengan rata-rata penurunan sekitar 5 cm dan sepanjang 30 meter.
“Pergerakan ini sudah berlangsung hampir tiga minggu. Meskipun pemukiman terdekat tidak langsung terkena retakan tanah, tetap ada ancaman mengingat lokasi ini rawan longsor,” ujar Eko saat dihubungi, Kamis (2/1).
Eko menambahkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi, dan Sumber Daya Mineral (DPUPRESDM) DIY. Mengingat, jalan tersebut berstatus jalan provinsi.
Upaya yang dilakukan sementara ialah menutup sebagian badan jalan agar diketahui oleh pengendara.
Namun begitu, kata Eko, jalan tersebut merupakan jalan utama yang dilalui warga setempat.
Apalagi, akses tersebut merupakan jalur penghubung antara Kabupaten Gunungkidul dan Klaten.
“Sudah dilakukan pengecekan di lapangan oleh dinas terkait, namun, karena anggaran akhir tahun belum tersedia, penanganan permanen harus menunggu,” jelasnya.
Untuk sementara, kendaraan berat dilarang melintas di area tersebut, sementara kendaraan ringan masih diizinkan dengan pengaturan lalu lintas terbatas.
Pihaknya tidak bisa menutup jalan sepenuhnya karena alternatif jalan lain memiliki medan yang ekstrem dan jarak yang sangat jauh.
Kepala DPUPRESDM DIY Anna Rina Herbranti menjelaskan, kondisi tanah di lokasi tersebut masih bergerak, ditambah cuaca ekstrem yang meningkatkan risiko longsor.
"Kami telah mengkaji kondisi tanah dan merencanakan konstruksi yang tepat. Setelah itu, baru akan dihitung kebutuhan anggarannya dan diajukan," ungkapnya.
Anna juga mengimbau masyarakat untuk tidak melintasi lokasi tersebut kecuali dalam kondisi darurat.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dishub Gunungkidul, Polsek, dan Lurah setempat untuk memantau dan mengantisipasi potensi bahaya di area tersebut.
"Sampai sekarang untuk penanganannya masih terkendala biaya, karena belum ada anggaran yang tersedia," jelasnya.
Editor : Bahana.