Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kasus PMK di Gunungkidul Meluas, 42 Sapi Mati dan 415 Ekor Berstatus Suspek

Andi May • Kamis, 2 Januari 2025 | 15:55 WIB

 

 

MASIH NORMAL: Aktivitas penjualan sapi di Pasar Hewan Siyono, Playen, Gunungkidul beberapa waktu lalu. Saat ini, sudah ada 42 ekor sapi yang mati karena penyakit mulut dan kuku.
MASIH NORMAL: Aktivitas penjualan sapi di Pasar Hewan Siyono, Playen, Gunungkidul beberapa waktu lalu. Saat ini, sudah ada 42 ekor sapi yang mati karena penyakit mulut dan kuku.

GUNUNGKIDUL – Penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi di Gunungkidul semakin meluas. Sesuai data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul, sudah ada 42 sapi mati hingga akhir Desember 2024. Sedangkan sapi yang berstatus suspek PMK mencapai 415 ekor.

Kepala DPKH Gunungkidul Wibawanti Wulandari mengungkapkan, penyebaran kasus PMK telah ditemukan hampir di seluruh kapanewon. Dia pun mengimbau peternak untuk segera melaporkan jika sapinya sakit atau mati.

Sebagai respons atas meluasnya kasus, dinas fokus pada upaya pencegahan melalui program vaksinasi. Hingga saat ini, sebanyak 375 dosis vaksin telah disalurkan ke peternak di daerah yang terdeteksi kasus PMK.

“Penyaluran vaksin sudah kami lakukan dengan pendampingan dari Kementerian Pertanian. Kami juga telah mengajukan tambahan vaksin ke Ditjen PKH untuk tahun 2025,” kata Wibawanti Rabu (1/1/2025).

Namun, Wibawanti menegaskan pentingnya kesiapan peternak dalam menerima vaksinasi. Karena vaksin yang disediakan harus segera digunakan agar efektif. “Tantangannya adalah masih adanya peternak yang menolak vaksinasi pada ternaknya,” ungkapnya.


Melihat kondisi saat ini, pihaknya merencanakan vaksinasi rutin bagi seluruh ternak di Gunungkidul sebagai upaya pengendalian jangka panjang. Langkah ini diambil karena PMK telah menjadi penyakit endemik di Indonesia.

“Ke depan, vaksin PMK akan menjadi kebutuhan wajib, baik saat ada wabah maupun tidak,” ungkapnya

Sebagai langkah preventif, pihaknya menggencarkan edukasi peternak untuk menerapkan biosecurity ketat. Seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah masuk kandang, membersihkan pakaian, serta memisahkan sapi sehat dan sakit. Selain itu, penggunaan cairan disinfektan secara rutin di kandang juga dianjurkan.

 

“Jika tidak memiliki disinfektan khusus, cairan pemutih bisa digunakan dengan perbandingan satu tutup botol untuk satu liter air. Ini efektif untuk mencegah penyebaran virus,” tandasnya.

 

Sebelumnya, Lurah Pampang, Paliyan, Gunungkidul Saiful Kohar mengatakan, ada 14 ekor sapi mati akibat PMK. Secara rinci, penyebaran penyakit tersebut tersebar di Padukuhan Polaman, Jetis, Kedungdowo Wetan, Kedungdowo Kulon, dan Pampang. 

Menurutnya, penularan PMK berasal dari induk-induk sapi yang terpapar. Akibatnya, anak sapi atau pedet ikut terpapar. “Kami khawatir jumlah sapi yang mati bertambah, semoga dengan vaksinasi dapat menekan penyebaran PMK," harapnya. (ndi/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#ekor #vaksin #penularan #Ditjen PKH #biosecurity #Paliyan #Dosis #Gunungkidul #PMK #DPKH #Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan #sapi #kandang #Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) #ternak sapi #pampang #peternak